Search Anything...
Tampilkan postingan dengan label Rating. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rating. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2021

Rating & Sales Ultraman VS Sentai & Kamen Rider!

 


Match ronde berikutnya, di mana posisi Ultraman saat ini dibanding Sentai & Kamen Rider?

Serial Ultraman adalah seri tertua yang lahir dari sang Bapak Tokusatsu, Eiji Tsuburaya. Makanya ngga aneh kalau spesial efek yang dihadirkan Ultraman, terutama di movie, adalah yang terbaik yang dimiliki Jepang. Bebannya berat cuy!

Tapi, Ultraman cukup realistis. Saat manajemennya berantakan dan kecolongan dalam hal hak cipta, mereka terbuka dalam melibatkan pihak luar untuk ngerem dulu dan memperbaiki diri.

Setelah habis-habisan di Ultraman Mebius, Bandai yang masih melihat potensi dari Ultraman langsung masuk membackup Tsuburaya. Dari kepemilikan 33% di 2008, lanjut ke 49% di 2009.

Sejak Mebius, Ultraman juga mulai beralih ke platform digital. Jadi kalau sekarang Ultraman bisa jaya di YouTube, itu sudah berdasarkan pengalaman dan riset panjang.

Ultraman juga tidak memaksakan diri lari panjang dengan serial 1 tahun. Cukup dengan episode-episode pendek, tapi bisa eksis di banyak platform.

Mulai dari mini seri yang mendukung game arcade Bandai: "Ultra Galaxy Dai Kaiju Battle," Ultraman mulai nabung dan pelan-pelan kembali ke TV, bahkan YouTube. Dari sana mulai ketemu formula kalau ujung-ujungnya ya jualan mainan collectibles item yang melibatkan karakter Ultraman-Ultraman lama.

Hasilnya, dalam 5 tahun terakhir, penjualan mainan Ultraman, TIDAK PERNAH TURUN!

Bagaimana perbandingannya dengan Sentai dan Kamen Rider?
Scroll terus kebawah untuk temukan jawabannya...


Sedikit basic knowledge soal rating...

1. Rating itu persentase yang didapat dari jumlah penonton TV di saat tertentu, dalam hal ini average jumlah penonton di suatu program, dibagi dengan total jumlah sample penonton TV (yang ada di Jepang).

2. Angka rating bisa dibreakdown lagi berdasarkan gender, usia, tingkat pendidikan, belanja bulanan, pergerakan penonton per menit, perpindahan channel, apa yang dilakukan saat break, kapan penonton mematikan TV, dst.

3. Untuk bisa mendapatkan angka rating dan detail tersebut, TV/ Media/ Agency periklanan membayar biaya yang cukup besar pada lembaga riset Nielsen.
Makanya, pada dasarnya angka ini confidential dan tidak mudah didapat.

4. Kenapa mahal? Karena detail infonya bisa digunakan untuk evaluasi performa program.

5. TAPI, rating tidak mencerminkan kualitas atau popularitas dari sebuah program/ acara.

6. Rating menjadi tolak ukur karena digunakan para pengiklan sebagai konversi nilai tinggi rendahnya beriklan di program tersebut. Dengan kata lain, rating rendah akan membuat harga iklannya rendah. Semakin rendah berarti semakin sedikit pemasukan bagi TV. Makanya TV ngga suka sama program yang ratingnya rendah.

7. Rating itu mengikuti besarnya total jumlah penonton yang adai di suatu waktu. Di jam yang ramai penonton, misal jam 6 sore sampai jam 9 malam, rating 20% itu biasa. Tapi kalau dini hari, atau pagi buta, rating 10% saja sudah istimewa.
Program yang sama tayang di jam yang berbeda juga akan menghasilkan rating yang berbeda, karena ya ketersediaan penonton tadi.

Makanya di TV ada divisi programming yang kerjanya memastikan sebuah program tayang di jam yang tepat, agar ratingnya bisa maksimal.

Kalau di grafik ini, bisa dilihat kalau "Ultra Q Dark Fantasy" & "Ultraseven X" nilai ratingnya jomplang dengan Neos-Max-Mebius itu bukan karena jelek, tapi karena jam tayang mereka yang ada di dini hari.

Biasanya serial Ultraman itu tayang tiap Sabtu sore di TV, baru pindah ke Sabtu pagi sejak Ultraman Orb (2016).


Ultraman Mebius ngga cuma sukses di jumlah penonton (rating), tapi juga di penjualan mainan.

Serial Ultraman selanjutnya ratingnya terus turun, tapi penjualan mainannya naik terus.

Kemungkinannya ada 2:
1. Semakin banyak mainan yang menarik untuk dibeli.
2. Penonton serial ini sebagian besar tidak menyaksikannya di TV. Angka rating jadi tidak mencerminkan kepemirsaan yang sebenarnya.


Nah, ini kalau kita bandingkan rating dengan sales-nya.

Sejak Ultraman Orb, sales-nya selalu positif. Sedangkan rating terus turun setelah Geed.


Gimana kalau Sales Ultraman dibandingkan dengan Sentai?

Data dari laporan keuangan Bandai menujukkan demikian. Sejak Ultraman Taiga (2019), penjualannya sudah mengalahkan Sentai Ryusoulger.


Dan ini kalau 3 serial Tokusatsu terpopuler kita sandingkan...

Kali ini saya bebaskan kalian untuk berasumsi sendiri-sendiri. Sip!

Rabu, 19 Agustus 2020

Rating VS Sales Heisei Kamen Rider


Rating terus menurun, berarti yang nonton semakin sedikit ya? Kualitasnya semakin jelek dong? Tapi kok penjualan mainannya terus naik???

Itu yang selalu jadi pertanyaan fans Kamen Rider selama ini. Mungkin berujung pada "Oh ya, paham kenapa kualitasnya belakangan jelek tapi masih tetap lanjut." Tapi faktor sales ini bukan satu-satunya penyebab. Mari kita cek case by case

Benar bahwa rating Kamen Rider tiap tahunnya selalu menurun. Di awal era Heisei, 9,7% warga Jepang menyaksikan Kamen Rider Kuuga (2000). Hype tentunya jadi faktor utama, karena akhirnya Kamen Rider kembali ke TV setelah absen selama 11 tahun. Sebagai pengingat, sejak Ksatria Baja Hitam RX berakhir di 1989, Kamen Rider tidak pernah hadir dalam bentuk serial TV.

New Hero, New Legend, Cho Henshin Kamen Rider Kuuga!

Respon yang sangat bagus ini dilanjutkan oleh seri kedua, Kamen Rider Agito (2001). Walaupun sudah tidak menggunakan konsep manusia yang dioperasi, tapi pendekatan drama yang realistis, dan proses berubah yang tidak lagi menggunakan green screen, membuat serial ini semakin diminati. Agito pun sukses ditonton 11.7% masyarakat Jepang, penjualan Henshin Belt-nya pun laris manis.

Uniknya, kembalinya Kamen Rider ke TV ini sebenarnya hanya direncanakan untuk 2 serial saja. Jadi setelah Agito sukses, tim dari TV Asahi dan Toei lumayan kelabakan untuk memikirkan konsep selanjutnya dari Kamen Rider series.

Maka tidak heran kalau banyak perubahan drastis yang hadir sejak Kamen Rider Ryuki (2002). Produser Shinichiro Shirakura yang sudah dipercaya menggarap Agito pun diminta melanjutkan Kamen Rider untuk dua tahun lagi.

Kamen Rider Battle Royale: Verde, Imperer, Ryuga, Gai, Raia, Zolda, Ryuki, Knight, Ouja, Scissors, Femme, Tiger, & Odin.

Di tangan Shirakura, Heisei Kamen Rider membangun pondasi baru. Sejak serangan teroris 9-11, dunia terasa lebih rentan, super hero pun dipertanyakan, begitu juga dengan konsep hitam-putih baik vs jahat. Kamen Rider di tangan Shirakura tidak lagi sama, Rider bisa jadi jahat, penjahat punya sisi baik, skala kepahlawanannya pun tidak harus global. Tapi yang terpenting, siapa saja bisa jadi Kamen Rider.

Setelah Shirakura selesai dengan “trilogi” Agito-Ryuki-Faiz, Produser Jun Hikasa yang sebelumnya menggarap Sentai dari Gogo-V (1999) sampai Abaranger (2003) dipercaya mengerjakan Kamen Rider Blade (2004). Ia berusaha meracik semua formula sukses dari trilogi Shirakura, tapi sialnya penonton dan penjualan justru menurun. Ia pun beranggapan serial Kamen Rider sudah sulit untuk dilanjutkan. Apakah Blade ini jadi serial Kamen Rider terakhir?

Masukan dari Jun Hikasa ini jadi pertimbangan para petinggi Toei dan Asahi. Harus ada serial baru yang segar, dan lahirlah Hibiki, demit penjaga hutan pembela kebenaran.

Hibiki, contoh konsep menarik yang tidak cocok dengan target marketnya.

Tapi karena secara branding Kamen Rider masih kuat, dan akan butuh banyak effort untuk mempromosikan brand baru. Hibiki tetap menyandang nama Kamen Rider dengan segala perbedaan konsepnya.

Hibiki sukses menarik minat penonton dewasa, 30-50 tahun, tapi GAGAL menarik minat penonton anak. Yes, anak-anak tetap menjadi target utama dari serial minggu pagi ini. Maka sejak episode 30, produser Shirakura (beserta timnya) ditarik kembali untuk menyelesaikan Hibiki kembali ke “jalan yang benar.” 

Shinichiro Shirakura (55), Direktur Toei, mantan Produser Kamen Rider.

Di tangan Shirakura, Kamen Rider semakin mantap sebagai franchise global. Kamen Rider Kabuto (2006) dan Den-O (2007) tidak hanya sukses diminati anak-anak, tapi juga penonton dewasa dan ibu-ibu muda. Kesuksesan Kamen Rider Den-O ini juga bisa dilihat dari jumlah film yang dibuat untuknya, yang mencapai 8 film.

Tapi di era internet yang semakin menggila, jumlah penonton TV terus berkurang, tergerus layanan streaming yang semakin mudah diakses dari mana saja. Jumlah penonton pun tidak bisa dipertahankan, dan terus menurun.

Bagaimana dengan penjualan mainannya?

Sejak Kamen Rider Decade (2009) yang juga ditangani Shirakura, penjualan mainan Kamen Rider selalu tembus 18 Miliar Yen atau sekitar 2 Triliun Rupiah.

Tidak mengherankan kalau Decade bisa mendulang banyak keuntungan, karena di serial ini, semua Heisei Rider kembali hadir, juga dengan mainan versi baru yang layak untuk dikoleksi fans anak-anak dan dewasa.

Setelah Decade, tentu saja Kamen Rider tetap ditarget rating, tapi kalau tidak tercapai, masih ada dukungan dari penjualan mainan, agar serial ini bisa tetap lanjut.

Nah, sejak itu lah muncul gimmick collectible items. Kamen Rider bisa berubah dengan Henshin Belt, tapi untuk mengaktifkan form baru atau jurus-jurus lainnya, ia harus menggunakan banyak sekali item yang menarik untuk dikoleksi mainannya.

RideWatch, Collectible Items dari Kamen Rider ZiO (2018).

Maka muncullah USB di Kamen Rider Double, koin di Kamen Rider OOO, tombol-tombol di Fourze, cincin Wizard, gembok di Gaim, mobil-mobilan di Drive, bola mata (wtf) di Ghost, game cartridge di Ex-Aid, botol di Build, dst-dst. Tidak lupa masing-masingnya dibuat versi Rider-Rider sebelumnya, agar fans dari serial sebelumnya tetap tertarik untuk membelinya. Walaupun belum tentu juga mainan itu dimunculkan di serial atau movie-nya. Tapi terbukti jadi konsep yang sukses untuk terus menguangkan franchise ini.

Belajar dari penurunan yang terjadi di Wizard, Gaim, dan Drive, Bandai selaku sponsor dan penyumbang ide gila dari gimmick-gimmick mainan Kamen Rider semakin selektif dalam menghadirkan collectibles item-nya.

Terbukti sejak Kamen Rider Ghost, Henshin Belt Kamen Rider selalu jadi mainan terlaris di Jepang, hingga sekarang.

DX Ziku Driver, Henshin Belt Kamen Rider Zi-O, mainan terlaris di Jepang sepanjang tahun 2018.

Baca juga: "2020, Bandai andalkan DX Seiken Swordriver Kamen Rider Saber"

Saat rating sudah turun sampai ke 3%, penjualan mainan justru terus naik dan sudah mencapai 28,5 Miliar Yen atau sekitar 3,9 Triliun Rupiah di tahun 2019.

Angka ini baru dari penjualan mainannya saja, belum termasuk IP keseluruhan yang mencapai 31,2 Miliar Yen atau sekitar 4,3 Triliun Rupiah. Angka yang fantastis bukan?

Sayangnya, karena pandemi global, laporan keuangan Bandai Namco memprediksi penjualan mainan Kamen Rider di 2020 ini akan turun ke 27,5 Miliar Yen. Lagi-lagi masih tetap angka yang fantastis untuk sebuah serial anak-anak.

Kembali ke soal rating, sebetulnya persaingan platform bukan satu-satunya penyebab utama dari penurunan rating. Perlu diingat kalau angka pertumbuhan penduduk alias jumlah anak-anak di Jepang terus menurun setiap tahunnya.

Shonen Kamen Rider. Suka ngga suka, target utama serial ini tetap anak-anak.

Kamen Rider mengejar target audience 0-14 tahun, dimana populasi lokalnya saat ini hanya sekitar 15,4 juta atau 12,2% dari total penduduk Jepang yang mencapai 126 juta. Jadi kalau dulu kepemirsaan Kamen Rider tinggi, ya karena jumlah penonton anak-anaknya jauh lebih tinggi dari sekarang.

Next: Konsep “Siapa saja bisa jadi Kamen Rider” ternyata berawal dari kendala regulasi. Begitu juga dengan berkurangnya adegan motor dan Rider Kick. Ada yang bisa jawab? Kita bahas di materi selanjutnya!