Search Anything...
Tampilkan postingan dengan label Kamen Rider. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kamen Rider. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Februari 2021

Berkenalan dengan Para Produser Kamen Rider



Kalau kalian ada di posisi Produser, kalian tidak hanya memikirkan teknis dan kualitas produksi, tapi juga sisi bisnisnya.

Saat ini Toei punya 7 Produser aktif yang menangani Tokusatsu. Mereka adalah Hideaki Tsukada, Shinya Maruyama, Takaaki Utsunomiya, Taku Mochizuki, Naomi Takebe, Takahito Omori, dan Kazuhiro Takahashi.

Dari semuanya, 3 nama terakhirlah yang paling sering mengerjakan Kamen Rider.

Satu serial itu kadang melibatkan lebih dari satu Produser dari Toei. Ditambah Produser dari TV Asahi yang mewakili kepentingan berbeda, jadi totalnya bisa 3-4 Produser yang saling berbagi tugas untuk sebuah serial saja.

Lead-nya sendiri kadang di TV Asahi, kadang di Toei. Produser TV Asahi concern utamanya di peningkatan rating. Merekalah yang punya data riset selera penonton. Fokus mereka di look sebuah program dan apakah penonton menyukainya atau tidak. Tugas Produser Toei-lah yang mengakomodir kebutuhan itu. Merekalah yang memproduksi semuanya agar bisa jadi tontonan yang menarik. 

Gimana caranya memastikan judul yang dikerjakan bisa mendatangkan uang dari banyak sisi? Seorang Produser Toei tidak hanya menguasai skill teknis produksi, tapi juga harus paham selera pasar, agar produknya bisa diterima dengan baik, tidak hanya anak-anak, tapi juga fans dewasa, dan para sponsor.

Ini penting untuk dikuasai biar bisa paham dengan kemauannya Produser dari TV Asahi.

Produser-produser yang kompeten juga terlibat aktif dalam perencanaan. Tidak hanya perencanaan teknis produksi, tapi juga kapan mainan-mainan tertentu keluar di serialnya. Jadi tidak cuma jadi kacungnya Bandai, tapi putar otak secara maksimal, agar penonton tidak sadar sedang berada dalam jebakan cerita beracun yang mewajibkan mereka untuk "collect them all!"

Berkarya dengan tujuan komersil ini kadang menghancurkan idealisme. Tapi untuk bisa tetap terus berkarya kita butuh uang bukan?

Saat program-program lain dapat bonus karena ratingnya bagus, penjualannya mainannya tinggi, program idealis yang tidak dapat apa-apa akan menimbulkan kecemburuan.

Itu terjadi di mana-mana…

Akhirnya semua karya memang dibuat agar bisa memberikan keuntungan, tapi negatifnya dirasakan semakin jauh dari konsep awalnya.

Apakah itu buruk?

Idealnya mungkin profit dari project komersil itu disisihkan untuk project idealis seperti Kamen Rider Amazons, KR The First, dll. Tapi kembali lagi, kita punya gap selera dan budaya yang berbeda dengan Jepang.

Idealisme versi mereka belum tentu cocok juga dengan selera fans dewasa di Indonesia.

Makanya lebih baik kalau kita bisa mempelajari bagaimana cara kerja mereka dan kita terapkan ilmunya untuk memproduksi serial lokal yang kita sudah paham marketnya.

Jadi kalau kalian seorang Produser Kamen Rider, apa yang mau kalian lakukan?


Adalah Shinichiro Shirakura yang bergabung dengan Toei di tahun 1990 sebagai BusDev Program TV di Toei. Di usia 25 tahun, ia berani mengatakan kalau Toei itu payah dari segi komersil. Menurutnya, Tokusatsu produksi Toei itu bisa lebih baik kalau bisa melibatkan lebih banyak pihak eksternal (sponsor). Jadi mindset-nya sebagai Produser memang bisnis oriented banget.

Untuk bisa melakukan itu, Shinichiro tidak asal ngecap. Karena ia benar-benar pintar dalam membaca selera pasar. Di tangannya, Kamen Rider VS Monster itu tidak pernah lagi hitam-putih. Karena realitanya kita memang hidup di area abu-abu. Konflik antar Rider bisa terjadi, monster bisa jadi Rider, jumlah Rider jadi tidak terbatas, dst-dst. Konsep itu terbukti membuka peluang eksplorasi cerita dan produksi mainan yang lebih banyak dari sebelumnya.

Secara teknis produksi, Shirakura juga cukup jenius. Fans Kamen Rider, Metal Heroes, & Sentai ini sudah bisa membedakan gaya pengambilan gambar dari masing-masing sutradara Toei di era 80-an. Sutradara favoritnya dalah Yoshiaki Kobayashi (Uchu Keiji & Kamen Rider Black - RX).

Saat ini Shinichiro Shirakura menjabat sebagai General Manager Toei TV Sales Department dan Hi-Tech Ambassador dari divisi baru Toei: Corporate Strategy Department.


Pertama kali bergabung di Toei, Naomi ditempatkan di bagian licensing. Mengurus traffic penjualan lisensi Toei. Dua tahun kemudian dia turun memproduksi serial drama dengan jabatan Asprod (Associate Producer).

Sejak tahun 1996 ia sering ditandem dengan Shinichiro Shirakura dan mempelajari banyak skill dan kebiasannya. Ia baru dipercaya memimpin sebuah produksi penuh di Kamen Rider Kiva (2008).


Sebagai Produser, dia tidak pernah merasa tabu untuk menghadirkan banyak Rider dalam sebuah serial. Ia bahkan menganggapnya suatu tantangan.

Jadi kalau dia sudah pegang serial Kamen Rider, jangan pernah berpikir Ridernya cuma satu orang saja...


Tidak banyak info yang bisa didapat untuk Produser yang satu ini.

Tapi jaraknya bergabung di project Tokusatsu dari pertama kali masuk ke Toei itu termasuk lama jika dibandingkan dengan Produser yang lain. Butuh 11 tahun sejak bergabung di tahun 1998, sampai akhirnya ia jadi Produser di Kamen Rider W.

Di tahun 2012-2015, sama seperti Shinichi Shirakura, ia juga “disekolahkan” ke TV Asahi sebagai Content Business Strategy. Setelah lulus, ia langsung dipercaya memimpin produksi Kamen Rider Ghost.

Banyak yang bilang Ghost gagal…
Tapi bagaimana dengan Kamen Rider Saber yang saat ini sedang tayang?

Baik buruknya serial ini adalah hasil kepemimpinannya. Sejauh ini sih cukup menarik ya. Gimana menurut kalian?


Setelah lulus kuliah film di California, Amerika, Takahito pulang dan langsung diterima di Toei di tahun 2003. Dari sana ia baru tahu kalau Toei itu memproduksi banyak serial jagoan dan langsung nge-fans sama Faiz.

Tahun 2005 ia mulai terlibat di Kamen Rider Hibiki sebagai Asprod dan baru naik jadi Produser di Kamen Rider Kiva (2008). Setelah sukses memimpin Kyoryuger, Takahito dipercaya mengerjakan Kamen Rider Drive, Ex-Aid, Build, Zero One, daan Kamen Rider baru setelah Saber...

Kelebihan Takahito adalah ia tidak pelit untuk menyewa konsultan profesional dari luar, agar tema-tema spesifik yang dihadirkan (Polisi/ Game/ AI) tidak hanya tampak nyata, tapi juga lebih unggul dan keren dibanding teknologi masa kini.

Tulisan saya sebelumnya tentang profesi-profesi Tokusatsu bisa dibaca di sini:
http://bit.ly/profesitoku
http://bit.ly/sutradarabima


Siapa Heisei Pertamanya?


Heisei Era dimulai pada 8 Januari 1989, tapi kenapa Heisei Ultraman baru dimulai dari Ultraman Tiga yang tayang di tahun 1996? Juga Heisei Rider itu Kuuga yang tayang di tahun 2000?? Bukan Shin Kamen Rider yang tayang di tahun 1992???

Ya karena sebuah era itu menggambarkan rentang waktu yang panjang, bukan kemunculan sesaat. Makanya ditandai dengan dimulainya sebuah serial yang secara resmi tayang di TV nasional Jepang.

Ini menjelaskan kenapa Ultraman Great yang diproduksi di Australia, tapi tayang di Amerika, dan hadir dalam bentuk video di Jepang tidak disebut sebagai Heisei Ultraman.


Begitu juga dengan Shin Kamen Rider yang pertama kali tayang di bioskop Jepang.

Kalau Sentai, yang memang tidak pernah stop, Era Heisei-nya ya sesuai dengan tahun tayangnya. 

Jumat, 29 Januari 2021

Rating & Sales Ultraman VS Sentai & Kamen Rider!

 


Match ronde berikutnya, di mana posisi Ultraman saat ini dibanding Sentai & Kamen Rider?

Serial Ultraman adalah seri tertua yang lahir dari sang Bapak Tokusatsu, Eiji Tsuburaya. Makanya ngga aneh kalau spesial efek yang dihadirkan Ultraman, terutama di movie, adalah yang terbaik yang dimiliki Jepang. Bebannya berat cuy!

Tapi, Ultraman cukup realistis. Saat manajemennya berantakan dan kecolongan dalam hal hak cipta, mereka terbuka dalam melibatkan pihak luar untuk ngerem dulu dan memperbaiki diri.

Setelah habis-habisan di Ultraman Mebius, Bandai yang masih melihat potensi dari Ultraman langsung masuk membackup Tsuburaya. Dari kepemilikan 33% di 2008, lanjut ke 49% di 2009.

Sejak Mebius, Ultraman juga mulai beralih ke platform digital. Jadi kalau sekarang Ultraman bisa jaya di YouTube, itu sudah berdasarkan pengalaman dan riset panjang.

Ultraman juga tidak memaksakan diri lari panjang dengan serial 1 tahun. Cukup dengan episode-episode pendek, tapi bisa eksis di banyak platform.

Mulai dari mini seri yang mendukung game arcade Bandai: "Ultra Galaxy Dai Kaiju Battle," Ultraman mulai nabung dan pelan-pelan kembali ke TV, bahkan YouTube. Dari sana mulai ketemu formula kalau ujung-ujungnya ya jualan mainan collectibles item yang melibatkan karakter Ultraman-Ultraman lama.

Hasilnya, dalam 5 tahun terakhir, penjualan mainan Ultraman, TIDAK PERNAH TURUN!

Bagaimana perbandingannya dengan Sentai dan Kamen Rider?
Scroll terus kebawah untuk temukan jawabannya...


Sedikit basic knowledge soal rating...

1. Rating itu persentase yang didapat dari jumlah penonton TV di saat tertentu, dalam hal ini average jumlah penonton di suatu program, dibagi dengan total jumlah sample penonton TV (yang ada di Jepang).

2. Angka rating bisa dibreakdown lagi berdasarkan gender, usia, tingkat pendidikan, belanja bulanan, pergerakan penonton per menit, perpindahan channel, apa yang dilakukan saat break, kapan penonton mematikan TV, dst.

3. Untuk bisa mendapatkan angka rating dan detail tersebut, TV/ Media/ Agency periklanan membayar biaya yang cukup besar pada lembaga riset Nielsen.
Makanya, pada dasarnya angka ini confidential dan tidak mudah didapat.

4. Kenapa mahal? Karena detail infonya bisa digunakan untuk evaluasi performa program.

5. TAPI, rating tidak mencerminkan kualitas atau popularitas dari sebuah program/ acara.

6. Rating menjadi tolak ukur karena digunakan para pengiklan sebagai konversi nilai tinggi rendahnya beriklan di program tersebut. Dengan kata lain, rating rendah akan membuat harga iklannya rendah. Semakin rendah berarti semakin sedikit pemasukan bagi TV. Makanya TV ngga suka sama program yang ratingnya rendah.

7. Rating itu mengikuti besarnya total jumlah penonton yang adai di suatu waktu. Di jam yang ramai penonton, misal jam 6 sore sampai jam 9 malam, rating 20% itu biasa. Tapi kalau dini hari, atau pagi buta, rating 10% saja sudah istimewa.
Program yang sama tayang di jam yang berbeda juga akan menghasilkan rating yang berbeda, karena ya ketersediaan penonton tadi.

Makanya di TV ada divisi programming yang kerjanya memastikan sebuah program tayang di jam yang tepat, agar ratingnya bisa maksimal.

Kalau di grafik ini, bisa dilihat kalau "Ultra Q Dark Fantasy" & "Ultraseven X" nilai ratingnya jomplang dengan Neos-Max-Mebius itu bukan karena jelek, tapi karena jam tayang mereka yang ada di dini hari.

Biasanya serial Ultraman itu tayang tiap Sabtu sore di TV, baru pindah ke Sabtu pagi sejak Ultraman Orb (2016).


Ultraman Mebius ngga cuma sukses di jumlah penonton (rating), tapi juga di penjualan mainan.

Serial Ultraman selanjutnya ratingnya terus turun, tapi penjualan mainannya naik terus.

Kemungkinannya ada 2:
1. Semakin banyak mainan yang menarik untuk dibeli.
2. Penonton serial ini sebagian besar tidak menyaksikannya di TV. Angka rating jadi tidak mencerminkan kepemirsaan yang sebenarnya.


Nah, ini kalau kita bandingkan rating dengan sales-nya.

Sejak Ultraman Orb, sales-nya selalu positif. Sedangkan rating terus turun setelah Geed.


Gimana kalau Sales Ultraman dibandingkan dengan Sentai?

Data dari laporan keuangan Bandai menujukkan demikian. Sejak Ultraman Taiga (2019), penjualannya sudah mengalahkan Sentai Ryusoulger.


Dan ini kalau 3 serial Tokusatsu terpopuler kita sandingkan...

Kali ini saya bebaskan kalian untuk berasumsi sendiri-sendiri. Sip!

Can-Am Spyder F3-S, Motor Kamen Rider Blades



Saat perusahaan motor asal Canada mau menyasar perempuan dan otaku yang ngga bisa bawa motor di Jepang, maka masuklah Can-Am Spyder F3-S sebagai motor dari Kamen Rider Blades yang tayang di serial Kamen Rider Saber tiap jam 9 pagi waktu Jepang.

Survei membuktikan, 21% pembeli motor ini adalah perempuan dan 24% adalah laki-laki yang ngga bisa naik motor. Mungkin ini dirasakan cocok dengan demografi penonton Kamen Rider saat ini.

Dengan motor unik ini, diharapkan anak-anak juga tertarik untuk minta orang tuanya beli, agar bisa diantar-jemput Kamen Rider setiap hari.


TBH, lebih keren versi Can-Am F3 yang berwarna hitam daripada versi spesial ini. Apalagi kalau sudah dimodif jadi Ride Gatriker, kok jadi tidak menarik.

Gimana menurut kalian, tertarik untuk membelinya?


Pemeran Kuuga Tidak Suka Tokusatsu???



Joe Odagiri, pemeran Kamen Rider Kuuga bilang, "Saya jadi aktor itu untuk akting sungguhan, bukan untuk main di Tokusatsu."

Ya, Joe bilang dari kecil dia memang tidak dekat dan tidak pernah nonton Tokusatsu. Dia tau Kamen Rider showa, tapi cuma gitu aja.

Menurutnya, akting hanya untuk drama, dan saat adegan puncaknya harus digantikan oleh orang berkostum itu, bukan hal yang ia impikan sebagai seorang aktor.

Joe juga tidak suka proses dubbing dan dia frustasi saat melakukannya.

Tapi secara profesional, Joe menyelesaikannya dengan baik, dan menjadikan Kuuga batu loncatan yang sempurna.

Jadi buat Fans di luar sana yang lagi BT sama kerjaan yang sekarang, semangat terus, tetap lakukan yang terbaik. Somehow, someday, kalian akan dapatkan apa yang kalian cita-citakan. Dan orang-orang tetap akan mengingat reputasi bagus yang kalian punya.

Kompilasi Asuka Kawazu (Kamen Rider Saber)


BTW buat Fans di sini yang tidak pernah kerja di media, khususnya majalah…

Just info, BERIKLAN itu salah satu bentuknya adalah penempatan logo. Juga kerjasama cross posting/ promo.

WPB 31-32 edisi Kiramager itu mulai dari logo majalahnya di-custom khusus jadi kira-kira Green, ada sesi foto dengan kostum karakter Kiramager, ada poster 1 halaman promo Kiramager juga, plus bonus DVD Sentai Heroine. Twitter Kiramager juga mempromosikan Playboy edisi Kiramager itu.

Apakah edisi-edisi WPB sebelumnya ada bentuk kerjasama yang demikian wahai butthurt people? Pernah twitter Kamen Rider promosiin artisnya ada di Playboy???

Ya kali saya harus screencap juga halaman yg ada logo + placement poster 1 halamannya itu. (karena keterbatasan tempat) Mending yg hot-hot aja yg ditampilin kan?

Lain kali pahami dulu, atau minimal BACA!
Trus like, share, dan comment, YES?!



PS. Yang tahan nonton video ini sampai selesai bolehlah absen di bawah ;)

Jumat, 11 September 2020

Hari-Hari Menjadi Kamen Rider Hibiki

14 tahun lalu, saya pernah menulis cerita lengkap tentang Hibiki di Majalah Henshin #2. Kalian bisa melihatnya di sini https://bit.ly/henshin2

Tapi tulisan itu memang lebih fokus ke isi dari serial dan filmnya, bukan detail tentang kelahiran Hibiki. Karena sudah jadi rahasia umum kalau Hibiki itu seharunya tidak jadi Kamen Rider. Kenapa bisa begitu?

Kamen Rider Hibiki tayang sebanyak 48 episode di TV Asahi, mulai 30 Januari 2005 s/d 22 Januari 2006. 

Flashback dikit ke Heisei Kamen Rider…

Awalnya itu TV Asahi & Toei hanya mempersiapkan 2 serial Kamen Rider saja, yakni Kuuga & Agito. Kuuga dipimpin Produser Takatera Shigenori, sedangkan Agito oleh Produser Shinichiro Shirakura. Ternyata, Kuuga dan Agito itu sukses banget, rating terus naik, bahkan sampai sekarang masih tetap yang tertinggi di era Heisei, jualan mainan juga masih lumayan. Lucunya, tidak ada yang menduga kalau akan sesukses itu, sampai mereka akhirnya bingung mau bikin Kamen Rider apa lagi di tahun berikutnya.

Kesebelasan Oni dari Kanto, dari Kiri ke Kanan: Gouki, Shouki, Eiki, Zanki, Todoroki, Hibiki, Ibuki, Sabaki, Danki, Touki, dan Banki.

Tragedi 9-11 di tahun 2001 membuat image Super Hero itu jadi semacam bualan belaka. Kamen Rider pun harus dibuat serealistis mungkin. Ide-ide gila dari Shinichiro Shirakura kemudian disetujui Petinggi TV Asahi - Toei - Bandai untuk Kamen Rider Ryuki (2002) dan Faiz (2003). Setelah itu, posisi Produser diserahkan pada Jun Hikasa, yang sebelumnya menangani Sentai Gogo-V (1999) s/d Abaranger (2003).

Jun yang sekarang menjabat sebagai Presiden Toei, saat itu menggabungkan semua rumus sukses Shirakura dari Agito-Ryuki-Faiz, yang sayangnya tidak berhasil. Rating dan penjualan mainan jadi yang terendah sejak era Heisei.

Mantan Produser Kuuga, Takatera pun sesumbar kalau era Kamen Rider sudah selesai. Dia ngga suka Kamen Rider yang saling bertarung dan pemerannya kurang macho. Ia pun berdiskusi dengan Jun Hikasa kalau Kamen Rider sudah jenuh. Katanya “Kita, harus bikin jagoan baru!”

Joe Odagiri, pemeran Kuuga & Produser Kuuga Takatera Shigenori.

Februari 2004 (11 bulan sebelum tayang):
Takatera Shigenori ditunjuk sebagai Produser.

Maret 2004: (10 bulan sebelum tayang):
Takatera mengusulkan remake dari karakter Ishimori yang lain: Henshin Ninja Arashi, dengan kostum modern ala-ala Gatchaman versi SMAP yang populer di tahun 2000.

Ide shooting bersama di New Zealand juga sudah direncanakan. Tapi akhirnya hanya Magiranger (Sentai yang timeline produksinya bersama dengan Hibiki) yang kebagian shooting bersama Power Rangers di New Zealand.

Ide ninja ini langsung gugur setelah tahu kalau serial Tokusatsu bikinan Toho, lanjutan dari Gransazer (2014) akan bertemakan Ninja. Karena tidak mau cari ribut, trio Toei-Asahi-Bandai sepakat mencari tema lain.

Justirisers, Seishin Series Kedua yang bertemakan Ninja.

April 2004 (9 bulan sebelum tayang):
Tema pemburu hantu dengan kekuatan suara terpilih.
Tsuyoshi Nonaka dari Bandai menyarankan tetap pakai Kamen Rider. Tapi Takatera tetep kekeuh, dan tgl 15 semua setuju bikin non-Kamen Rider. Konsep jagoan yang berlatih bersama anak didiknya pun mulai dikembangkan.

Mei 2004 (8 bulan sebelum tayang):
Bandai mengajukan konsep Disc Animal untuk mewakili kekuatan suara. Tapi minta revisi tema jadi kekuatan alat musik, agar lebih mudah dikembangkan dalam bentuk mainan.

Juni 2004 (7 bulan sebelum tayang):
Bandai mempresentasikan bahayanya kalau brand Kamen Rider dihentikan. Mengingat Konami masih jalan dengan Seishin Series, dan “bocorannya” Takara juga akan mulai bikin Tokusatsu dengan Ryukendo.

Bandai tidak mau lapak mainannya digusur Takara dengan Ryukendo.

Sempat ada kompromi kalau nama Rider-nya saja yang akan digunakan, jadi Ongeki Rider (ilustrasinya sempat bocor). Tapi Shinichiro Shirakura yang sudah diplot untuk bikin Hibiki Movie bilang, "Sekali keluar dari Kamen Rider, tidak akan bisa balik jadi Kamen Rider lagi."

Pertengahan Juni, Takatera request ke Bandai kalau aksi jagoannya itu mukul "bedug." Karena dia terpukau dengan pertunjukan grup penabuh taiko Kodo. Desain awal Hibiki dengan tangan berotot pun jadi.

Ongeki Rider Hibiki

Saat itu semua sadar kalau konsep setan, Disc Animal, dan alat musik itu sesuatu yang ngga nyambung. Dan berpikir keras untuk menggabungkannya.

Juli 2004 (6 bulan sebelum tayang):
Resiko membawa nama Kamen Rider adalah mengikuti pakem musuh dan rider harus berasal dari kelompok atau memiliki sumber kekuatan yang sama. Tapi Produser Takatera menolak ide itu.

Hibiki ini harus benar-benar dipisahkan dari musuhnya. Jadi musuh ya musuh, tidak akan ada hubungannya dengan asal terciptanya Rider.

Selain itu, Takatera juga masih menolak penggunaan motor karena buat dia, akan aneh kalau jagoan yang melawan musuh dengan kekuatan suara, justru naik motor yang berisik. "Jadi ngga sakral kekuatannya," katanya.

Sengaja dibuat buta, tanpa mata, karena mengandalkan kekuatan suara dan pendengaran.

Menunggang disc animal yang berubah jadi motor juga sempat dipertimbangkan, tapi malah jadi semakin sulit, baik itu secara visual, maupun produksi mainan.

Idealisme Produser terus bersinggungan dengan para petinggi-petinggi lainnya.

Agutus 2004 (5 bulan sebelum tayang):
Seluruh konsep mainan sudah fixed!

Hasilnya mainan gitar lebih laris daripada bedug dan terompet.


September 2004 (4 bulan sebelum tayang):

Konsep Henshin Ninja Arashi masih terus digunakan walaupun tipis-tipis. Dipakai sebagai konsep musuh & Rider yang berasal dari seluruh dunia. Tapi terus diperkecil jadi wilayah Jepang saja. Nuansa Jepang dalam konsep visual pun jadi semakin kental.

"Oni no Yoroi" armor curian yang digunakan Kamen Rider Shuki, tribute untuk Henshin Ninja Arashi.

Oktober (3 bulan sebelum tayang):
Casting selesai. Setelah 3 kali menolak, Shigeki Hoshokawa akhirnya menerima peran sebagai Hitoshi Hidaka (Hibiki). Shigeki yang saat itu berusia 33 tahun adalah pemeran Kamen Rider tertua dalam sejarah. Kamen Rider yang dewasa dan anti-cemen ini sesuai selera Produser Takatera.

November (2 bulan sebelum tayang):
Shooting dimulai. Takatera benar-benar menerapkan konsep semua Rider itu satu, tidak ada perselisihan, tanpa konflik. Beda dengan Rider versi produser-produser sebelumnya.

17 Desember 2004 (1 bulan sebelum tayang):
Resmi diumumkan. Dalam konferensi pers-nya, Takatera mengatakan Hibiki adalah versi Heisei dari Kamen Rider Amazon.

Tapi kangen juga ya lihat keluarga besar Kamen Rider yang akur tanpa konflik.

Januari 2005 (tayang):
Hubungan guru dan murid yang dihadirkan sukses menarik penonton 30-50 tahun, tapi TIDAK untuk anak-anak balita sampai 12 tahun yang jadi target utamanya. Mereka tidak paham filosofi yang dihadirkan, konflik batin guru dan murid yang ingin mewujudkan mimpi itu tidak sampai ke anak-anak. Penjualan mainan juga tidak bagus.

Februari 2005 (1 bulan setelah tayang):
Tim CG yang bikin monster mulai mengeluh karena mereka sudah harus kerja sebelum script-nya selesai. Alias ngawang-ngawang gitu briefnya...

Maret 2005 (2 bulan setelah tayang):
Takatera ribut dengan para petinggi Asahi & Toei karena masalah budget produksi yang terus bengkak, gara-gara jadwal shooting yang molor (namanya juga shooting di alam ya kan), juga rating & sales yang anjlok.

Penulis Shinji Oishi mengusulkan form baru yang tidak direncanakan sebelumnya, untuk lebih menarik penonton anak-anak. Lahirlah Hibiki Kurenai yang berwarna Merah dan punya visor di mata.

Hibiki akhirnya naik motor dan punya mata.

April 2005 (3 bulan setelah tayang):
Produser Takatera mundur setelah menyelesaikan episode 29, dengan alasan tidak bisa lagi melanjutkan visinya di Hibiki. Ia juga "resign" dari Toei kurang dari setahun kemudian. Produser Shinichiro Shirakura yang sudah diplot untuk memproduksi Hibiki The Movie, ditarik untuk memimpin produksi serialnya juga.

Shirakura yang diberikan misi untuk menyelamatkan Hibiki, berusaha sebaik mungkin untuk tidak mematikan karakter yang sudah ada. Karena masing-masing karakter ternyata sudah ada fan base-nya.

Maka dari itu, perubahan besar yang dilakukan Shirakura adalah:

  • Ganti penulis, diserahkan pada Toshiki Inoue (Jetman, Changerion, Agito, Faiz).
    Toshiki tidak suka konsep menggurui dari Hibiki. Juga Asumu yang terlalu nurut. Makanya karakter Kyosuke Kiriya dipertahankan sebagai anak rebel yang mewakili realita remaja saat itu.
  • Narasi awal episode dihilangkan.
  • Mengubah lagu OP & ED tanpa mengurasi durasi episode.
  • Mengubah gaya penulisan titling dari atas ke bawah, jadi horizontal seperti biasa.
  • Upgrade pasangan Youkan Otoko & Onna ke Douji & Hime.
  • Menghapus jurus-jurus & adegan brutal.
  • Mengurangi CG dan pengambilan gambar di gunung.
  • Mengurangi adegan latihan dan porsi keluarga Asumu.
  • Fokus menambah porsi aksi dan strategi melawan musuh daripada cerita tentang impiannya Asumu.

Strategi memindahkan pertarungan ke kota dan menambah banyak emosi/ konflik antar karakter terbukti berhasil meningkatkan rating.

Rating penonton Kamen Rider Hibiki

Karena kekompakan, kebersamaan kru, dan pemeran sangat penting untuk menjaga kelangsungan produksi, Shinichiro Shirakura mengakomodir semua masukan mereka, dan hasilnya adalah ending Hibiki seperti yang kita lihat.

Sementara fans dewasa terus saja berisik menyalahkan pergantian tim itu.

Akhirnya Hibiki “mendarat” di posisi kelima rating tertinggi dalam sejarah Heisei, lebih tinggi dari Kamen Rider Blade, tapi terburuk di sisi penjualan mainan.

Okay Fans, jadi apa yang kita pelajari dari sini?
1. Proses planning produksi untuk sebuah serial itu sudah ada sejak 1 tahun sebelumnya. Tapi proses shooting baru 2-3 bulan sebelum tayang. Jadi sangat wajar kalau kita sudah dapat bocoran 3-6 bulan sebelum tayang.

2. Bandai punya peran besar dalam menentukan cerita. Mainan yang ngga nyambung pun bisa dibikin nyambung kalau itu maunya Bandai.

3. Penulis bukan dewa, di atas dia masih ada Produser sang penanggung jawab program. Semua keputusan ada di dia. Ada yang ngga selera? Salahin produsernya!

4. Tidak semua kemauan fans itu sebanding dengan kemauan yang punya acara. Ada rating & sales yang harus dijaga. 

Sebetulnya, masih ada banyak cerita dibalik layar Hibiki yang menarik untuk disimak. Terutama tentang kostum & suit actor-nya. Kita lanjut di materi selanjutnya ya!

Aktor Kamen Rider tertua dengan kostum termahal.

BTW, tulisan ini dibuat berdasarkan buku "Kamen Rider Hibiki no jijo document - Hero wa do settei sa reta no ka" yang ditulis oleh Kataoka Chikara, seorang pengacara yang saat itu dekat dengan Produser Takatera Shigenori.

Rabu, 26 Agustus 2020

TRAP: Cewek Jagoan, ternyata Cowok!



Dari beberapa suit actor yang banyak memerankan jagoan cewek, ada satu nama yang WAJIB kamu tahu, yaitu Yuichi Hachisuka (57).

Lahir di Tochigi, 27 Agustus 1962, cowok tulen anggota Japan Action Enterprise (JAE) ini yang awalnya tertarik pengen jadi ninja, malah terjebak dalam peran jagoan cewek, sampai sekarang!

Fokus! Hanya ada SATU cewek di foto ini.

Yuichi bergabung dengan JAE saat masih bernama Japan Action Club di tahun 1982, atau saat usianya masih 20 tahun. Saat itu dia langsung dipercaya beraksi jadi kroco di serial Gavan-Sharivan-Shaider. 

Karirnya meningkat saat ia dipercaya jadi jagoan di pertunjukan panggung Bioman. Tapi bukannya jadi jagoan cowok, dia malah jadi Pink Five yang harusnya cewek. Ternyata alasan kenapa Yuichi yang terpilih, posturnya itu mirip dengan Michihiro Takeda, suit actor asli pemeran Pink Five (juga Goggle Pink), yang merupakan cowok langsing dan yang tidak terlalu tinggi.

NAMANYA AJA CHANGE-MAN, JADI SEMUANYA COWOK!

Sukses beraksi jadi jagoan cewek di panggung, ia ditarik ke serial Dengeki Sentai Changeman (1985) dan sampai 6 tahun kemudian selalu memerankan jagoan cewek, sampai akhirnya dia cedera saat berperan sebagai White Swan di Chojin Sentai Jetman (1991).

Daigoro Tachibana, Onnagata terkenal di Jepang.

Cowok berperan sebagai cewek sebetulnya bukan hal yang asing di Jepang. Karena sejak abad ke-17 sudah ada pertunjukan Kabuki yang semua pemerannya cowok, termasuk untuk karakter cewek. Hal itu dilakukan karena ada aturan untuk melindungi perempuan dari tindak pelecehan. Cowok-cowok yang berperan jadi perempuan di Kabuki ini disebut dengan Onnagata.

Kembali ke Yuichi, saat ia harus berperan jadi perempuan, dia benar-benar mempelajari gesture perempuan dengan baik, yang sialnya terbawa saat ia berperan sebagai jagoan cowok di Gingaman (1998), Gogo-V (1999), dan Timeranger (2000). Di tiga serial itu ia berperan sebagai Ginga Yellow, Go Yellow, dan Time Green.

Kyukyu Sentai Gogo-V (1999): Tetap tidak ada perempuan di sini...

Melihat kecenderungan ini, Sutradara Aksi mengembalikan posisi Yuichi sebagai jagoan cewek, Gao White di Hyakuju Sentai Gaoranger (2001). Padahal Yuichi sudah menambahkan masa otot agar terlihat lebih macho.

Yuichi bersama para suit actor, pemeran, MC dan penyanyi di reuni Gogo-V.

Di tahun 2004, Yuichi mendonasikan 1 ginjalnya ke istrinya, break kurang dari satu tahun, dan kembali lagi jadi Magi Mother di Sentai Magiranger (2005). Hingga sekarang, sudah ada 16 karakter jagoan cewek yang ia perankan, termasuk Kamen Rider Naki di Kamen Rider Zero-One (2020).

Kalau kamu pikir di sini ada perempuannya, kamu SALAH!

Kalau sebagian suit actor senior sudah beralih jadi Action Director, Yuichi masih bertahan sebagai jagoan cewek profesional. Di JAE saat ini ia menjadi guru untuk para stuntman yang ingin menjadi jagoan cewek, karena dari tahun ke tahun, posisi ini selalu terbuka. Apalagi Kamen Rider sudah semakin rutin menghadirkan Kamen Rider cewek.

Nah gimana, kamu para cowok minat jadi jagoan cewek?

The One and Only, Yuichi Hachisuka.

BTW, Yuichi juga banyak mengenakan kostum musuh cewek, ini dia listnya:
1. Mele di Gekiranger (2007)
2. Dayu Usukawa di Shinkenger (2009)
3. Candelilla di Kyoryuger (2013)
4. Madame Noir di ToQger (2014)
5. Kyuemon Izayoi di Ninninger (2015)
6. Noria di Zyuohger (2016)
7. Akyanba di Kyuranger (2017)
8. Gauche Le Mede di Lupin VS Patranger (2018)

Kenapa suit actor sering diberdayakan jadi figuran?
Ya karena mereka yang selalu ada di lokasi shooting.

Dan seperti layaknya suit actor lain, wajah asli dari Yuichi Hachisuka juga bisa kalian lihat saat menjadi figuran di episode-episode berikut ini:
1. Gaoranger (2001) episode terakhir.
2. Kyuranger (2017) - Space 38.
3. Lupin VS Patranger (2018) eps.39.
4. Kiramager (2020) eps.3.

Rabu, 19 Agustus 2020

Rating VS Sales Heisei Kamen Rider


Rating terus menurun, berarti yang nonton semakin sedikit ya? Kualitasnya semakin jelek dong? Tapi kok penjualan mainannya terus naik???

Itu yang selalu jadi pertanyaan fans Kamen Rider selama ini. Mungkin berujung pada "Oh ya, paham kenapa kualitasnya belakangan jelek tapi masih tetap lanjut." Tapi faktor sales ini bukan satu-satunya penyebab. Mari kita cek case by case

Benar bahwa rating Kamen Rider tiap tahunnya selalu menurun. Di awal era Heisei, 9,7% warga Jepang menyaksikan Kamen Rider Kuuga (2000). Hype tentunya jadi faktor utama, karena akhirnya Kamen Rider kembali ke TV setelah absen selama 11 tahun. Sebagai pengingat, sejak Ksatria Baja Hitam RX berakhir di 1989, Kamen Rider tidak pernah hadir dalam bentuk serial TV.

New Hero, New Legend, Cho Henshin Kamen Rider Kuuga!

Respon yang sangat bagus ini dilanjutkan oleh seri kedua, Kamen Rider Agito (2001). Walaupun sudah tidak menggunakan konsep manusia yang dioperasi, tapi pendekatan drama yang realistis, dan proses berubah yang tidak lagi menggunakan green screen, membuat serial ini semakin diminati. Agito pun sukses ditonton 11.7% masyarakat Jepang, penjualan Henshin Belt-nya pun laris manis.

Uniknya, kembalinya Kamen Rider ke TV ini sebenarnya hanya direncanakan untuk 2 serial saja. Jadi setelah Agito sukses, tim dari TV Asahi dan Toei lumayan kelabakan untuk memikirkan konsep selanjutnya dari Kamen Rider series.

Maka tidak heran kalau banyak perubahan drastis yang hadir sejak Kamen Rider Ryuki (2002). Produser Shinichiro Shirakura yang sudah dipercaya menggarap Agito pun diminta melanjutkan Kamen Rider untuk dua tahun lagi.

Kamen Rider Battle Royale: Verde, Imperer, Ryuga, Gai, Raia, Zolda, Ryuki, Knight, Ouja, Scissors, Femme, Tiger, & Odin.

Di tangan Shirakura, Heisei Kamen Rider membangun pondasi baru. Sejak serangan teroris 9-11, dunia terasa lebih rentan, super hero pun dipertanyakan, begitu juga dengan konsep hitam-putih baik vs jahat. Kamen Rider di tangan Shirakura tidak lagi sama, Rider bisa jadi jahat, penjahat punya sisi baik, skala kepahlawanannya pun tidak harus global. Tapi yang terpenting, siapa saja bisa jadi Kamen Rider.

Setelah Shirakura selesai dengan “trilogi” Agito-Ryuki-Faiz, Produser Jun Hikasa yang sebelumnya menggarap Sentai dari Gogo-V (1999) sampai Abaranger (2003) dipercaya mengerjakan Kamen Rider Blade (2004). Ia berusaha meracik semua formula sukses dari trilogi Shirakura, tapi sialnya penonton dan penjualan justru menurun. Ia pun beranggapan serial Kamen Rider sudah sulit untuk dilanjutkan. Apakah Blade ini jadi serial Kamen Rider terakhir?

Masukan dari Jun Hikasa ini jadi pertimbangan para petinggi Toei dan Asahi. Harus ada serial baru yang segar, dan lahirlah Hibiki, demit penjaga hutan pembela kebenaran.

Hibiki, contoh konsep menarik yang tidak cocok dengan target marketnya.

Tapi karena secara branding Kamen Rider masih kuat, dan akan butuh banyak effort untuk mempromosikan brand baru. Hibiki tetap menyandang nama Kamen Rider dengan segala perbedaan konsepnya.

Hibiki sukses menarik minat penonton dewasa, 30-50 tahun, tapi GAGAL menarik minat penonton anak. Yes, anak-anak tetap menjadi target utama dari serial minggu pagi ini. Maka sejak episode 30, produser Shirakura (beserta timnya) ditarik kembali untuk menyelesaikan Hibiki kembali ke “jalan yang benar.” 

Shinichiro Shirakura (55), Direktur Toei, mantan Produser Kamen Rider.

Di tangan Shirakura, Kamen Rider semakin mantap sebagai franchise global. Kamen Rider Kabuto (2006) dan Den-O (2007) tidak hanya sukses diminati anak-anak, tapi juga penonton dewasa dan ibu-ibu muda. Kesuksesan Kamen Rider Den-O ini juga bisa dilihat dari jumlah film yang dibuat untuknya, yang mencapai 8 film.

Tapi di era internet yang semakin menggila, jumlah penonton TV terus berkurang, tergerus layanan streaming yang semakin mudah diakses dari mana saja. Jumlah penonton pun tidak bisa dipertahankan, dan terus menurun.

Bagaimana dengan penjualan mainannya?

Sejak Kamen Rider Decade (2009) yang juga ditangani Shirakura, penjualan mainan Kamen Rider selalu tembus 18 Miliar Yen atau sekitar 2 Triliun Rupiah.

Tidak mengherankan kalau Decade bisa mendulang banyak keuntungan, karena di serial ini, semua Heisei Rider kembali hadir, juga dengan mainan versi baru yang layak untuk dikoleksi fans anak-anak dan dewasa.

Setelah Decade, tentu saja Kamen Rider tetap ditarget rating, tapi kalau tidak tercapai, masih ada dukungan dari penjualan mainan, agar serial ini bisa tetap lanjut.

Nah, sejak itu lah muncul gimmick collectible items. Kamen Rider bisa berubah dengan Henshin Belt, tapi untuk mengaktifkan form baru atau jurus-jurus lainnya, ia harus menggunakan banyak sekali item yang menarik untuk dikoleksi mainannya.

RideWatch, Collectible Items dari Kamen Rider ZiO (2018).

Maka muncullah USB di Kamen Rider Double, koin di Kamen Rider OOO, tombol-tombol di Fourze, cincin Wizard, gembok di Gaim, mobil-mobilan di Drive, bola mata (wtf) di Ghost, game cartridge di Ex-Aid, botol di Build, dst-dst. Tidak lupa masing-masingnya dibuat versi Rider-Rider sebelumnya, agar fans dari serial sebelumnya tetap tertarik untuk membelinya. Walaupun belum tentu juga mainan itu dimunculkan di serial atau movie-nya. Tapi terbukti jadi konsep yang sukses untuk terus menguangkan franchise ini.

Belajar dari penurunan yang terjadi di Wizard, Gaim, dan Drive, Bandai selaku sponsor dan penyumbang ide gila dari gimmick-gimmick mainan Kamen Rider semakin selektif dalam menghadirkan collectibles item-nya.

Terbukti sejak Kamen Rider Ghost, Henshin Belt Kamen Rider selalu jadi mainan terlaris di Jepang, hingga sekarang.

DX Ziku Driver, Henshin Belt Kamen Rider Zi-O, mainan terlaris di Jepang sepanjang tahun 2018.

Baca juga: "2020, Bandai andalkan DX Seiken Swordriver Kamen Rider Saber"

Saat rating sudah turun sampai ke 3%, penjualan mainan justru terus naik dan sudah mencapai 28,5 Miliar Yen atau sekitar 3,9 Triliun Rupiah di tahun 2019.

Angka ini baru dari penjualan mainannya saja, belum termasuk IP keseluruhan yang mencapai 31,2 Miliar Yen atau sekitar 4,3 Triliun Rupiah. Angka yang fantastis bukan?

Sayangnya, karena pandemi global, laporan keuangan Bandai Namco memprediksi penjualan mainan Kamen Rider di 2020 ini akan turun ke 27,5 Miliar Yen. Lagi-lagi masih tetap angka yang fantastis untuk sebuah serial anak-anak.

Kembali ke soal rating, sebetulnya persaingan platform bukan satu-satunya penyebab utama dari penurunan rating. Perlu diingat kalau angka pertumbuhan penduduk alias jumlah anak-anak di Jepang terus menurun setiap tahunnya.

Shonen Kamen Rider. Suka ngga suka, target utama serial ini tetap anak-anak.

Kamen Rider mengejar target audience 0-14 tahun, dimana populasi lokalnya saat ini hanya sekitar 15,4 juta atau 12,2% dari total penduduk Jepang yang mencapai 126 juta. Jadi kalau dulu kepemirsaan Kamen Rider tinggi, ya karena jumlah penonton anak-anaknya jauh lebih tinggi dari sekarang.

Next: Konsep “Siapa saja bisa jadi Kamen Rider” ternyata berawal dari kendala regulasi. Begitu juga dengan berkurangnya adegan motor dan Rider Kick. Ada yang bisa jawab? Kita bahas di materi selanjutnya!