Normalnya, Patent Design sudah didaftarkan ke Kantor Paten 4 bulan sebelum mainannya rilis.
Jadi saat mainannya rilis bersamaan dengan penayangan serialnya, orang-orang di Kantor Paten sudah tau “bocoran”-nya hampir setengah tahun sebelumnya. Tapi untuk kerahasiaan, publik baru bisa mengaksesnya 7 bulan kemudian, atau 2 bulan setelah mainannya rilis.
Ini berbeda dengan pendaftaran Merek yang publik bisa mengaksesnya hanya beberapa minggu setelah didaftarkan.
Untuk Magiking dari Magiranger, BANDAI masih mendaftarkan nama 1 orang saja sebagai desainer-nya, yakni Takeyuki Suzuki yang saat itu menjabat sebagai Direktur TOEI. Produser Magiranger, Hideaki Tsukada atau orang BANDAI & PLEX tidak tercatat sebagai desainernya.
Berbeda dari robot-robot Sentai sebelumnya, Magiking merupakan penggabungan dari para anggotanya yang berubah menjadi makhluk mistis dalam berbagai ukuran.
Komposisi tinggi anggota yang berbeda-beda ini mengingatkan kita dengan ukuran reguler dari tim DONBROTHERS (2022).
Tapi saat bergabung jadi Magiking dan dijual dalam bentuk mainan, tingginya hanya 27 cm, atau sama persis dengan tinggi DX KING-OHGER (2023).
Saat itu, DX Magiking first release-nya dijual seharga 7.590 Yen, atau lebih murah 1.760 Yen dari KING-OHGER.
DX Magiking ini tercatat sebagai mainan terlaris nomor 1 untuk kategori Boys Toys di tahun 2005, atau nomor 2 untuk semua kategori, hanya kalah dari Heartful Commune, “morpher” dari Pretty Cure Max Heart yang berbentuk swivel phone.
Kalau kalian ada di posisi Produser, kalian tidak hanya memikirkan teknis dan kualitas produksi, tapi juga sisi bisnisnya.
Saat ini Toei punya 7 Produser aktif yang menangani Tokusatsu. Mereka adalah Hideaki Tsukada, Shinya Maruyama, Takaaki Utsunomiya, Taku Mochizuki, Naomi Takebe, Takahito Omori, dan Kazuhiro Takahashi.
Dari semuanya, 3 nama terakhirlah yang paling sering mengerjakan Kamen Rider.
Satu serial itu kadang melibatkan lebih dari satu Produser dari Toei. Ditambah Produser dari TV Asahi yang mewakili kepentingan berbeda, jadi totalnya bisa 3-4 Produser yang saling berbagi tugas untuk sebuah serial saja.
Lead-nya sendiri kadang di TV Asahi, kadang di Toei. Produser TV Asahi concern utamanya di peningkatan rating. Merekalah yang punya data riset selera penonton. Fokus mereka di look sebuah program dan apakah penonton menyukainya atau tidak. Tugas Produser Toei-lah yang mengakomodir kebutuhan itu. Merekalah yang memproduksi semuanya agar bisa jadi tontonan yang menarik.
Gimana caranya memastikan judul yang dikerjakan bisa mendatangkan uang dari banyak sisi? Seorang Produser Toei tidak hanya menguasai skill teknis produksi, tapi juga harus paham selera pasar, agar produknya bisa diterima dengan baik, tidak hanya anak-anak, tapi juga fans dewasa, dan para sponsor.
Ini penting untuk dikuasai biar bisa paham dengan kemauannya Produser dari TV Asahi.
Produser-produser yang kompeten juga terlibat aktif dalam perencanaan. Tidak hanya perencanaan teknis produksi, tapi juga kapan mainan-mainan tertentu keluar di serialnya. Jadi tidak cuma jadi kacungnya Bandai, tapi putar otak secara maksimal, agar penonton tidak sadar sedang berada dalam jebakan cerita beracun yang mewajibkan mereka untuk "collect them all!"
Berkarya dengan tujuan komersil ini kadang menghancurkan idealisme. Tapi untuk bisa tetap terus berkarya kita butuh uang bukan?
Saat program-program lain dapat bonus karena ratingnya bagus, penjualannya mainannya tinggi, program idealis yang tidak dapat apa-apa akan menimbulkan kecemburuan.
Itu terjadi di mana-mana…
Akhirnya semua karya memang dibuat agar bisa memberikan keuntungan, tapi negatifnya dirasakan semakin jauh dari konsep awalnya.
Apakah itu buruk?
Idealnya mungkin profit dari project komersil itu disisihkan untuk project idealis seperti Kamen Rider Amazons, KR The First, dll. Tapi kembali lagi, kita punya gap selera dan budaya yang berbeda dengan Jepang.
Idealisme versi mereka belum tentu cocok juga dengan selera fans dewasa di Indonesia.
Makanya lebih baik kalau kita bisa mempelajari bagaimana cara kerja mereka dan kita terapkan ilmunya untuk memproduksi serial lokal yang kita sudah paham marketnya.
Jadi kalau kalian seorang Produser Kamen Rider, apa yang mau kalian lakukan?
Adalah Shinichiro Shirakura yang bergabung dengan Toei di tahun 1990 sebagai BusDev Program TV di Toei. Di usia 25 tahun, ia berani mengatakan kalau Toei itu payah dari segi komersil. Menurutnya, Tokusatsu produksi Toei itu bisa lebih baik kalau bisa melibatkan lebih banyak pihak eksternal (sponsor). Jadi mindset-nya sebagai Produser memang bisnis oriented banget.
Untuk bisa melakukan itu, Shinichiro tidak asal ngecap. Karena ia benar-benar pintar dalam membaca selera pasar. Di tangannya, Kamen Rider VS Monster itu tidak pernah lagi hitam-putih. Karena realitanya kita memang hidup di area abu-abu. Konflik antar Rider bisa terjadi, monster bisa jadi Rider, jumlah Rider jadi tidak terbatas, dst-dst. Konsep itu terbukti membuka peluang eksplorasi cerita dan produksi mainan yang lebih banyak dari sebelumnya.
Secara teknis produksi, Shirakura juga cukup jenius. Fans Kamen Rider, Metal Heroes, & Sentai ini sudah bisa membedakan gaya pengambilan gambar dari masing-masing sutradara Toei di era 80-an. Sutradara favoritnya dalah Yoshiaki Kobayashi (Uchu Keiji & Kamen Rider Black - RX).
Saat ini Shinichiro Shirakura menjabat sebagai General Manager Toei TV Sales Department dan Hi-Tech Ambassador dari divisi baru Toei: Corporate Strategy Department.
Pertama kali bergabung di Toei, Naomi ditempatkan di bagian licensing. Mengurus traffic penjualan lisensi Toei. Dua tahun kemudian dia turun memproduksi serial drama dengan jabatan Asprod (Associate Producer).
Sejak tahun 1996 ia sering ditandem dengan Shinichiro Shirakura dan mempelajari banyak skill dan kebiasannya. Ia baru dipercaya memimpin sebuah produksi penuh di Kamen Rider Kiva (2008).
Sebagai Produser, dia tidak pernah merasa tabu untuk menghadirkan banyak Rider dalam sebuah serial. Ia bahkan menganggapnya suatu tantangan.
Jadi kalau dia sudah pegang serial Kamen Rider, jangan pernah berpikir Ridernya cuma satu orang saja...
Tidak banyak info yang bisa didapat untuk Produser yang satu ini.
Tapi jaraknya bergabung di project Tokusatsu dari pertama kali masuk ke Toei itu termasuk lama jika dibandingkan dengan Produser yang lain. Butuh 11 tahun sejak bergabung di tahun 1998, sampai akhirnya ia jadi Produser di Kamen Rider W.
Di tahun 2012-2015, sama seperti Shinichi Shirakura, ia juga “disekolahkan” ke TV Asahi sebagai Content Business Strategy. Setelah lulus, ia langsung dipercaya memimpin produksi Kamen Rider Ghost.
Banyak yang bilang Ghost gagal… Tapi bagaimana dengan Kamen Rider Saber yang saat ini sedang tayang?
Baik buruknya serial ini adalah hasil kepemimpinannya. Sejauh ini sih cukup menarik ya. Gimana menurut kalian?
Setelah lulus kuliah film di California, Amerika, Takahito pulang dan langsung diterima di Toei di tahun 2003. Dari sana ia baru tahu kalau Toei itu memproduksi banyak serial jagoan dan langsung nge-fans sama Faiz.
Tahun 2005 ia mulai terlibat di Kamen Rider Hibiki sebagai Asprod dan baru naik jadi Produser di Kamen Rider Kiva (2008). Setelah sukses memimpin Kyoryuger, Takahito dipercaya mengerjakan Kamen Rider Drive, Ex-Aid, Build, Zero One, daan Kamen Rider baru setelah Saber...
Kelebihan Takahito adalah ia tidak pelit untuk menyewa konsultan profesional dari luar, agar tema-tema spesifik yang dihadirkan (Polisi/ Game/ AI) tidak hanya tampak nyata, tapi juga lebih unggul dan keren dibanding teknologi masa kini.
Kadang bingung, kasih info sederhana aja, tapi bisa ditangkap salah, trus dikembangin jadi asumsi sendiri-sendiri yang out of context, dan yang diributin akhirnya hal yg jadi asumsi-asumsi itu sendiri. Konon begitulah penyakit netizen toxic indonesia.
Harusnya ya, kalau bingung di awal ya tanya, apa maksudnya. Jangan nge-ghibah sendiri...
Kalo kayak gini gimana, cuma info major share holders. Belum ngomongin detail laporan keuangan yang melibatkan IP. Nanti ilmunya ngga nyampe trus bikin asumsi-asumsi sendiri repot deh.
Intinya sih Bandai rules! Baik itu di Tsuburaya, Ishimori Pro, juga Toei. Apa pun yang masuk ke mereka, Bandai juga dapat.
Banyak hal Bos... Sama kayak misal saya punya 2 HP, ngga semua dipake main game. Ada yg khusus buat kerja, ada yang buat foto-foto/ video, dengan spek yang beda-beda, biar kegunaan masing-masing jadi maksimal, ngga saling makan.
Jadi selama masih punya Bandai, Tsuburaya ngga akan ganggu gugat itu eksistensi Kamen Rider, begitu juga sebaliknya. Eh tapi kan ada Sentai ya, gimana itu?
Ya ditunggu aja... Indikator-indikatornya kan udah dijabarkan. Tinggal ditunggu aja akan kejadian apa ngga. Gitu aja kok repot~
Catatan: Bandai dan Logo Bandai yang disebut di sini adalah penyederhanaan dari Bandai Namco.
Image Fields konon buruk, karena mesin pachinko itu mesin judi, dan judi dekat dengan Mafia. Makanya perusahaan konvensional Jepang agak-agak segan berurusan dengan Tsuburaya yang sekarang. KECUALI BANDAI. Keluarga Tsuburaya pun sudah tidak punya saham di sini, dan sejak 2009 sudah tidak ada 1 pun keluarga Tsuburaya yang terlibat. Tapi komitmen Fields & Bandai untuk menjaga keluarga Ultra sepertinya tidak perlu diragukan ya?
Beda dengan Tsuburaya yang sudah kehilangan akar keluarga pendirinya. Ishimori Pro masih ada 40% saham perusahaan keluarga Ishimori di sana.
35% dipegang Bandai dan 25% oleh Itochu, perusahaan dagang yang sudah punya cabang di Indonesia.
Kalau kalian merasa familiar dengan logonya, berarti kalian penonton BIMA/ BIMA-X/ Satria Heroes. Karena penghubung RB ke Ishimori ya perusahaan ini.
Bandai memegang 8% saham Toei. Tapi 8% kan kecil, tuh ada yg 43%. Ada yg namanya major share holders, walaupun cuma 17 atau 8, tapi itu dipegang oleh pemilik/ organisasi/ perusahaan yang sama.
Jadi bisa dibilang, kebijakan-kebijakan yang diambil Toei itu ditentukan oleh para petinggi tv asahi, TBS, dan Bandai.
BTW dulu kepemilikan Bandai di Toei dibawah 5%, tapi terus meningkat seiring waktu.
Ada beberapa TV juga yang menaruh saham di Toei, selebihnya kebanyakan perusahaan perbankan.
Ada yang paham kira-kira kenapa banyak TV yang minat invest di Toei?
“Wah, serial baru itu kan penulisnya si anu. Bakalan jelek deh kayak serial yg dulu dia bikin itu,” atau “Kalau dia yang nulis, pasti jagoannya banyak yang mati!”
Sebesar itu kah peran dari penulis cerita di Tokusatsu? Jawabannya: Tidak.
Produksi serial Tokusatsu beda dengan sinetron, beda juga dengan film aksi hollywood. Tapi sebelum kita bahas detail perbedaannya, kita pahami dulu jobdesc dalam sebuah produksi serial TV.
CEO TV Asahi, Hiroshi Hayakawa
Yang Punya TV
Direktur TV
Executive Producer
Produser + Asisten
Sutradara + Asisten
Penulis Cerita
Storyboard
Kameramen
Lighting
Audioman
Penata Musik
Kostum, Props, Set Builder, dll.
Editor
SFX
dst-dst.
Poin 1-2 memang tidak terlibat langsung dengan isi dari sebuah serial, tapi mereka yang paling punya kepentingan dengan image/ kebijakan dari sebuah TV dan ranking dari sebuah acara. Mereka ini yang paling bawel kalau sebuah serial dikomplain sama masyarakat, atau mendadak bikin kontroversi. Sebaliknya, dengan nama besar sebuah TV, kita bisa berharap serial yang bermutu, atau minimal beda dengan yang ada di TV-TV lain.
Executive Producer Super Sentai & Kamen Rider, Matoi Sasaki
Executive Producer itu ibaratnya Produser Senior. Orang yang dipercaya megang banyak serial sukses, trus dikasih kerjaan tambahan: Menjalin kerjasama dengan pihak eksternal yang tujuannya untuk pendanaan, biar produksinya bisa semakin wah, semakin tinggi kualitasnya. EP ini kadang juga berasal dari sponsor itu sendiri, jadi perwakilan sponsor yang ditempatkan dalam sebuah produksi. Ada kalanya EP juga merupakan artis ternama yang banyak duit. Dia suka konsep ceritanya, dia mau jadi aktor/ aktrisnya, dia juga yang keluar uang biar bisa direalisasikan.
Kemudian ada Produser, ini orang yang jadi kunci sukses, sekaligus kegagalan dari sebuah serial. Karena sesuai namanya, dialah kepala proyek yang ada di pucuk pimpinan proses produksi. Termasuk di Tokusatsu…
Mantan Produser Kamen Rider, Direktur Toei, Shinichiro Shirakura
Produser ini sudah terlibat dari proses konsep/ desain atau apa pun itu, alias masih jauh sebelum proses produksi itu dimulai. Produser juga yang melakukan rekrutmen dari sebuah tim. Dia yang menentukan siapa sutradara, sutradara aksi, penulis cerita, kru, musik, penyanyi OP-ED, vendor editing, SFX, tim stuntman, dst-dst. Tapi scope kerja Produser ini ngga terbatas di proses produksi. Ini yang membedakannya dengan Sutradara. Sutradara yang akan pegang komando di keseharian proses produksi, sedangkan Produser juga harus paham strategi marketing dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait, biar acara yang dia pegang dapat publikasi yang bagus.
Ngga cuma itu, Produser juga harus jagain budget. Misal di satu produksi alokasi budgetnya akan bengkak di spesial efek, mau ngga mau ada alokasi budget yang harus turun. Misal untuk sewa tempat outdoor atau honor untuk penulis. Nah Produser harus bisa cari penulis cerita yang mau dibayar sesuai budget. Ngga nemu karena yang sudah terkenal pasang harga tinggi? Ya akhirnya sedapatnya aja. Kalau hasilnya jelek gimana? Kan ada kualitas ada harga? Di sini tantangannya, bukan ngga mungkin nemu penulis baru yang harganya masih rendah, tapi kualitasnya bagus. Itu pun tidak dilepas begitu saja, karena supervisi & persetujuan sepanjang acara terus berlangsung.
Jadi, kalau ada serial yang menurut kalian buruk, sebelum nyalahin sutradara atau penulis ceritanya, tandain dulu siapa produsernya. Karena selera dan skill manajerial (baca: pemilihan kru & kualitasnya) ya ada di Produser.
Kalau ternyata serial yang dia buat selama ini memang rata-rata jelek, ya ngga heran. Tapi perlu diingat juga, jelek menurutmu belum tentu jelek menurut pasar. Siapa tau kamu memang bukan target audience-nya. Sudah cek jumlah penonton (rating/ share)-nya? Sudah cek penjualan mainannya? Bagus? Nah, berarti itu jawabannya kenapa dia masih dipercaya sebagai Produser.