Search Anything...

Rabu, 19 Agustus 2020

Tokusatsu VS Sinetron w/ Sutradara BIMA Satria Garuda


Di fandom Tokusatsu, namanya dikenal sebagai Sutradara Tokusatsu Indonesia pertama. Lulusan New York Institute of Technology Manhattan ini sempat menjadi Production Assistant di Trans TV selama 2,5 tahun, sebelum akhirnya menjadi Sutradara di MNC Pictures sejak 2011, dan dipercaya menangani BIMA Satria Garuda di 2013. Uniknya, dia ternyata juga seorang Fans Tokusatsu.

3 varian poster Satria Heroes yang dibuat oleh Michael Tju dkk.

Penasaran gimana pengalamannya menyutradarai BIMA, BIMA-X, dan Revenge of Darkness? Apa aja kendala yang dialami selama shooting? Juga serial Tokusatsu favoritnya? Langsung simak wawancara berikut ini...

Selamat siang Mas, lagi sibuk apa nih?

Yang pasti sih ngga berhubungan sama perfilman, lagi coba usaha aja dulu. Sudah lama pengen coba usaha penginapan, tapi pas udah mau jalan, sikonnya malah tidak memungkinkan.

Sebetulnya kalau mau tetap shooting untuk blog(?) masih bisa, yang penting kita harus hati-hati sama proses shootingnya aja.

Arnandha Wyanto juga menulis naskah untuk film yang rencananya rilis di bulan Juli kemarin.

Setelah terakhir menyutradarai Satria Heroes: Revenge of Darkness, apa ngga kangen bikin Tokusatsu lagi?

Pasti kangen, karena jadi pengalaman yang berharga banget. Dari kecil suka, udah besar ada kesempatan, jadi kayak dreams come true. Tapi dengan sikon yang sekarang susah juga, interaksi dengan orang banyak, dengan aturan Covid untuk jaga kesehatan jadi susah.

Bedanya Tokusatsu dengan sinetron itu sebetulnya apa Mas?

Sinetron itu drama total. Kalau ada action pun paling cuma 5%. Sedangkan Tokusatsu itu lebih banyak aksi dan spesial efek, sinar, tembakan, dll.

Bukannya merendahkan sinetron, tapi aksinya apa sih, kalau pun ada stunt tapi ngga banyak. Sedangkan Tokusatsu, tiap episode harus ada aksinya, entah cuma untuk keren-kerenan atau membangun cerita, setidaknya ada 2 babak aksinya. Jadi bedanya ya persentase content aksi dan drama.

Kemudian juga sinetron itu biasanya standar cinta-cintaan, bukan berarti di tokusatsu ngga ada cinta-cintaan, tapi sinetron itu main fokusnya di cinta-cintaan, sedangkan tokusatsu tidak.


Apa itu berarti sudah sejak awal ada komposisi yang jelas drama sekian persen, aksi sekian persen?

Tidak ada plottingan khusus seperti itu, karena tergantung dapatnya naskah seperti apa. Di situ pentingnya peran penulis dalam pemetaan adegannya. Kada dapat naskah yang full aksi, sekitar 70-75%, kadang juga dapat yang banyak dramanya.

Kalau di BIMA, uniknya posisi penulis ini tidak ada di Indonesia, semua main idea dari Jepang. Jadi kalau ada perubahan, komunikasinya harus lewat beberapa pihak dulu baru kembali ke kita. Kalau sama-sama di Jepang mungkin lebih mudah kalau ada pemetaan spesifik seperti itu, tapi karena kendala jarak ini, harus lewat beberapa orang baru kembali ke kita.

Trus adaptasinya gimana?

Lebih terasa di season 2, karena season 1 sudah dapat naskan 90% sebelum shooting. Sedangkan di season 2 ada jembatan Produser Sachiko Maehata. Jadi tiap ada perubahan harus lewat dia dulu. Ada yang boleh ada yang tidak. Misal kita dapat naskah yang kurang menarik, ada yang harus diubah di lapangan, secara etika harus lapor dia dulu.

Misal di naskah tertulis jagoan loncat dari lantai 10, sementara lokasinya tidak ada, jadi boleh ada perubahan.

Dengan keberadaan Produser Jepang itu jadi lebih membantu?

Ya, jadi tidak lebih ribet, karena dia bisa bantu menjelaskan kendala di lokasi dengan para petinggi, terutama yang di Jepang.

Kameramen Shinji Tomita, Sutradara FX Raiyan Laksamana, Produser Sachiko Maehata, & Sutarada Teruyoshi Ishii.
Foto koleksi Raiyan Laksamana

Kendala utama mengerjakan Tokusatsu kolaborasi ini sebetulnya apa Mas?

Komunikasi, kita harus udah jelas di awal maunya apa. Setelah Sutradara dapat naskah, semua dapat naskah, kita meeting bareng. Saya utarakan yang saya mau. Saya butuh input dari mereka, ini bisa apa ngga? Ngga bisa kenapa? Trus cari jalan tengah. Karena saya lebih suka ribet di awal, pusing di awal, daripada baru mikir pas shooting. Jadi sudah sesuai dengan apa yang saya mau dan tim bisa kerjakan.

Kalau begitu, berapa jarak dari meeting ke shooting?

Hampir 2 minggu untuk persiapannya. Di BIMA itu kita dibagi dua tim. Tim 1 mengerjakan 2 episode sekaligus, kemudian ganti ke Tim 2 untuk 2 episode berikutnya. Jadi saat Tim 1 sudah shooting, 1-2 hari kemudian saya di Tim 2 dapat naskah mulai bedah. Seminggu kemudian mereka break, kita meeting bareng, bahas art, kostum, lokasi. Kita persiapan, Tim 1 lanjut shooting lagi.

2 minggu untuk persiapan itu mepet ngga Mas?

Kalau dibilang mepet, tergantung sikon. Biasanya diakali dengan shooting drama dulu di hari pertama. Ini cukup efektif untuk memberi waktu bagi tim action untuk persiapan.

Apakah perbedaan bahasa jadi kendala?

Kadang. Karena jujur saya ngga ngerti bahasa Jepang. Sepatah dua patah mungkin masih bisa nangkep maunya ke mana. Walaupun ada penerjemah, tapi istilah perfilman itu tidak bisa apple to apple, jadi bisa ada maksud yang terjemahannya beda.

Contohnya?

Contohnya soal type shoot, karena penerjemah tidak bisa menjelaskan maksudnya. Di Jepang itu biasa menggunakan tipe shoot berdasarkan anatomi manusia: Bust, Waist. Sedangkan di sini pakai Close Up, Wide Shoot. Itu yang bikin penerjemah bingung. Bus (Bis) shoot?

Kalau secara verbal aja, kemungkinan salah tangkap itu lebih tinggi. Tapi kalau dibantu peragaan tubuh bisa lebih nyambung.

Contohnya waktu brief Shinji Tomita (DOP), pakai bahasa badan. Justru faktor perbedaan bahasa itu yang bikin seru, bisa memahami cara komunikasi dan cara kerja orang Jepang.


Salah satu yang bikin penasaran dari produksi Tokusatsu itu pengambilan gambar untuk grade kostum yang berbeda-beda. Ada kostum close up yang kualitasnya bagus, ada lagi kostum yang memang dibuat untuk aksi. Nah itu gimana take-nya?

Balik ke shoot list-nya mau gimana, kalau sudah tau rentetan shoot list-nya gampang. Sutradara aksi itu yang menentukan mau ambil closeup dulu atau lebar dulu. Jadi tidak ada kuncian pasti, tergantung shootnya mau yg mana dulu. Tapi kita selalu berusaha atur waktu, agar pemakaian kostum efektif. Jadi tidak sering ganti-ganti kostum, karena pemasangan ribet.

Untuk adegan fighting 5 menit eksekusinya berapa lama?

Terlalu teknis ya, tidak bisa diestimasi, karena tergantung tim aksi. Kadang adegan tertentu butuh latihan & persiapan lebih lama. Kalau mereka sudah paham, bisa cepat. Karena kadang namanya dunia kreatif, mereka mau coba hal baru. Jadi selama masih cukup waktunya, silahkan aja.

Makanya biasanya saya alokasikan satu hari full untuk aksi, jangan diganggu drama, jadi tidak tunggu-tungguan.

Dengan adanya sutradara aksi ini, apa tidak beririsan dengan scope Mas Nandha sebagai sutradara?

Batasnya sebetulnya jelas, saya ambil drama, dia ambil aksi. Di Bima itu sutradara aksi namanya Hiroki Asai. Kita selalu diskusi. Biasanya dia tanya, berapa lama nanti aksinya? 2mnt? 3mnt?

Nanti dia yang atur shoot-nya agar tidak terlalu banyak. Sebelum shooting kita duduk bareng. Menjelaskan dramanya di sini, masuknya begini. Begitu masuk aksi, sampai titik sini, nanti ada drama (dialog) lagi. Aksinya nanti dia yang atur. Tapi saya juga tetap mewanti-wanti, jangan sampai ada drama yang di luar rencana. Makanya komunikasi di awal itu penting.

Sutradara Aksi Hiroki Asai & Sutradara Arnandha Wyanto

Berarti saat aksi itu semua dialognya di dubbing ya?

Iya, walaupun misalnya ada aktor di lokasi, tapi mereka ngga mungkin melakukan itu, karena fokusnya sudah di drama atau adegan sebelumnya. Jadi kita lakukan dubbing belakangan, atau istilahnya ADR (Additional Recording).

Berapa lama jatah shooting untuk 1 episode?

Karena sistemnya per blok 2 episode, totalnya kurang lebih 8 hari untuk 2 episode. Shooting drama biasanya lebih cepat. Setelah atur jadwal dan lokasi, porsi dramanya bisa dihajar duluan, sambil memberikan waktu untuk tim aksi melakukan latihan/ persiapan. Setelah drama selesai, baru dilempar ke tim aksi. Nanti tinggal kita sambung halus adegannya.

Bagaimana dengan budget Tokusatsu yang katanya sangat besar itu?

Budget besar itu juga untuk efek teknis, jadi bukan hanya efek komputer. Tapi yang di lapangan seperti ledakan, mortar, itu ngga murah. Mau bikin ledakan pun harus ada izin dari tim gegana, ada biaya. Apakah areanya memungkinkan, karena tidak semua tempat boleh ada ledakan. Itu juga yang menyebabkan kita shootingnya di studio alam terus.


Pengalaman paling mengesankan selama mengerjakan Tokusatsu?

Ya proses dari shooting Tokusatsu itu sendiri. Misalnya berantem dengan tim Jepang. Yang bikin salut itu kita berantem karena mau bikin yang terbaik. Menyatukan visi. Bentrok karena ngotot-ngototan dengan Teri (Teruyoshi Ishii), Sutradara Jepang bahkan sempat ngga ngomong sampai beberapa hari.

Itu kejadian pas awal-awal (episode lawan monster cumi) waktu kita belum nemu celah untuk komunikasi dengan mereka.

Berantemnya bisa karena prinsip ada, perbedaan selera ada, karena sikon juga ada. Season dua juga sempat berantem lagi sekali.

Tapi pas meeting diobrolin, ngotot itu ternyata karena sama-sama ingin memberikan yang terbaik. Karena tidak semua cara Jepang bisa masuk ke penonton Indonesia.

Dari berantem itu justru nemu celahnya, jadi bisa saling mengerti & memahami. Jadi selanjutnya udah “Lo mau bikin gini-gini ya?” “Iya kok tau?”

“Dramanya gini ya? “Iya kok tau.”

Sutradara Jepang: Hideki Oka & Teruyoshi Ishii

Diantara Teri dan (Hideki) Oka mana yang lebih favorit?

Agak susah, karena masing-masing punya gaya sendiri. Teri itu old school, sedangkan Oka lebih berani coba sesuatu yang baru. Ada beberapa hal lebih baik cara Teri daripada Oka.

Oka itu pengen nyoba sesuatu yang baru terus, visinya selalu jelas maunya ke mana. Kadang keras kepala, tapi kita lihat akhirnya OK. Azazel yang akhirnya jadi baik itu hasil eksekusi Oka.

Kalau Teri di pengaturan shooting yang dibuat jadi lebih sederhana dan mulus, karena jam terbang dia sudah tinggi. Saya kemudian ambil jalan tengah, pelajari cara mereka dan dijadikan satu.

Apa sebelumnya pernah cari tahu karya-karya mereka sebelumnya? 

Ngga. Jujur malah dikasih tau waktu meeting di awal, kalau Teri pernah megang beberapa episode Ultraman Gaia. Baru tahu kalau ternyata pengalaman mereka lebih banyak setelah ngobrol langsung. Setelah itu baru mulai cari-cari di Youtube, akhirnya jadi lebih paham gayanya.

Karya Sutradara Arnandha Wyanto di 2016

Nah kalau gaya Mas Nandha ini yang seperti apa?

Kalau saya lebih pengen nyambungin drama & action lebih mulus. Contoh eps. 23 saat akhirnya Torga mau membantu. Yang pertama kali berantem bertiga VS monster lebah dan kepiting yang jadi satu.

Di naskah awal itu, Torga bisa dikalahkan dengan mudah. Padahal sebelumnya dia kuat bisa menghancurkan markas dalam sekali tembak. Jadi kalau dia harus kalah, ada alasan yang jelas. Diatur porsi drama dan aksinya nyambung, biar lebih masuk akal sesuai karakter. Jadi ceritanya saya rombak, Torga kalah dalam bentuk manusia, tidak kalah setelah dia berubah. Baru kemudian dia sadar, tidak boleh egois, dan berujung kerjasama. Kalau dibuat seperti itu, jadi lebih enak.

Kita juga ada pertanyaan dari penonton, ada yang tanya camera shoot di BIMA itu mirip gaya sinetron 90an, apa memang disengaja biar jadi ciri khas?

Season satu jujur karena masih meraba, cari celah teknis, apakah benar ini yang kita mau atau tidak. Kalau disebut konsep, itu sebetulnya konsep standar. Karena memang standar shooting pada umumnya memang seperti itu. Kalau ada yang merasa, ya mungkin karena memang kita besar di era itu, jadi tanpa sadar terbawa. Tapi bukan konsep yang disengaja, murni karena masih awal jadi memang belum tau kondisi di lapangan.

Kemudian ada pertanyaan lagi, kenapa Markas Vudo lantainya keramik?

Wah, saya tidak bisa ngomong banyak tentang episode itu, karena dikerjakan oleh tim lain. Saya rasa karena sulit cari lokasi. Kenapa akhirnya jadi keramik, saya tidak tahu. Saya tidak bisa komentar banyak, karena bukan episode saya.

Ada lagi nih pertanyaan, Azazel itu sudah mati atau belum?

Sebenernya saya sendiri ngga tau. Saya kira dia sudah mati di ujung season dua. Saya juga ngga tanya detail dan ambil pusing. Tergantung yang punya karakter, karena saya cuma jalanin naskah, "Oh dia masih hidup."

Salah satu forum online yang masih aktif membicarakan Satria Heroes.

Kalau kita bicara sosmed, saat itu BIMA & BIMA-X cukup hype dan mengundang banyak perbincangan. Apakah kru juga memantau?

Iya, karena kita pengen tau arahnya mau dibawa ke mana, penonton sukanya gimana. Kalau belakangan terlihat lebih banyak aksi, ya karena kita tangkap banyak anak-anak yang pengen lihat aksi.

Gimana kesannya waktu ketemu Kotaro Minami?

Tiba-tiba bisa ketemu seneng banget. Ngeliat dia saya jadi kayak orang tolol. Kalau pengalaman shooting ngga ada, karena pas episode dia bukan saya yang megang. Dia sombong? Pas saya main ke lokasi shooting sih down to earth, nyantai. Ngga lupa saya juga foto bareng.

OK, gimana perasaan mas Nandha setelah Kai secara resmi diumumkan cuma akan lanjut di animasi?

Sebagai penggemar kecewa, karena Tokusatsu itu ya seperti yang kita kerjain kemarin, orang pakai kostum real. Tapi kalau secara keamanan dan kesehatan ya ini cara yang paling aman. Secara ide kreatif masih bisa tetap berjalan, tapi tidak melibatkan banyak orang yang bisa mengakibatkan penularan Covid.

Tapi bukan kecewa, lebih ke sedih ya. Karena kostumnya keren banget.

Kalau kita bicara Tokusatsu, apa genre dan serial yang jadi favorit Mas Nandha?

Kamen Rider. Ultraman ada beberapa, suka banget Ultraman Nexus yang punya deunamist yang berbeda-beda. Kalau Sentai itu love & hate, karena kerasa anak-anak banget, ada beberapa yang keren kayak Gaoranger, Gokaiger. Tapi dari semua yang nyantol banget ya Gaban, Kenji Ohba.

Kamen Rider Saber Full Trailer dengan Teks Indonesia

Posted by Aria W. Suriadikusuma on Wednesday, 29 July 2020

Gimana komentarnya tentang Kamen Rider terbaru?

Bakalan nonton, tapi nunggu Zero One habis dulu. Baru nonton sampai 11, setelah itu baru lanjut nonton yang baru.

Apa sampai saat ini masih berhubungan baik dengan kru Jepang? 

Komunikasi masih ada, tanya kabar, sibuk apa. Saling follow. Tapi kalau untuk tawaran kerja di Jepang ngga ada. Karena duit ke sana mahal, kalau pun ikut, akan merepotkan. Karena tidak bisa bahasa Jepang.

Terakhir, apa pesan-pesan Mas Nandha untuk Fans Tokusatsu di Indonesia? 

Kalau memang punya ide, coba bikin aja, penuhin aja. Mungkin ngga sekarang jalan, mungkin nanti, tapi yang penting basic-nya udah ada dulu aja. Nanti kalau Covid udah hilang, kalian bisa jual ide kalian. Manfaatkan waktu senggang ini untuk mewujudkan ide.

Jangan lupa jaga kesehatan!

Wawancara lengkap dengan Arnandha Wyanto bisa kalian simak di video berikut ini. Jangan lupa subscribe dan like ya!

 

Selasa, 18 Agustus 2020

Warna-Warni Super Sentai


Sejak pertama kali muncul di tahun 1975 dengan "Himitsu Sentai Goranger", sampai "Mashin Sentai Kiramager" di 2020, tercatat sudah ada 45 kelompok Sentai dari 44 serial. Dari semuanya, hanya warna Merah yang tidak pernah absen. Warna Biru pernah absen, tapi di serial lain, bisa muncul beberapa anggota dengan beberapa varian warna Biru, hingga secara total hanya selisih satu dari Merah. Kenapa Merah selalu ada dan Biru selalu menempel? Simak penjelasannya berikut ini.

Himitsu Sentai Goranger (1975)

Cerita di Balik Warna

Di tahun 1975, 90% keluarga di Jepang sudah memiliki TV berwarna. Maka dari itu, sangat penting untuk menampilkan jagoan dalam berbagai warna untuk menarik perhatian penonton. Agar warna-warni ini semakin berkesan, dibuatlah karakter-karakter berbeda untuk masing-masing mereka. Khusus untuk Goranger, karakternya adalah sebagai berikut:
- Merah: Pemimpin
- Biru: Wakil
- Kuning: Paling Kuat
- Pink: Perempuan
- Hijau: Lugu

Battle Fever J (1979)

Pada Battle Fever J (1979), karakterisasi ini dimunculkan lewat desain helm yang jauh berbeda. Tapi kritik kemudian muncul yang mengatakan tim ini jadi tidak terlihat solid. Maka sejak Denziman (1980), tidak ada lagi perbedaan drastis bentuk helm untuk seluruh tim. Sampai sekarang, tiap-tiap warna ini selalu mewakili sifat/ karakter/ peran tertentu dan satu-satunya yang tidak pernah absen adalah warna Merah. Selain itu juga ada 15 warna lainnya yang sudah pernah hadir, yakni: Biru, Kuning, Hijau, Pink, Putih, Orange, Hitam, Merah Tua, Biru Tua, Ungu, Emas, Perak, Biru Muda, Abu-Abu, dan Cokelat.

Warna Dasar
Setidaknya ada 7 warna yang selama ini menjadi warna yang paling banyak dipakai. Warna-warna itu adalah Merah, Biru, Kuning, Pink, Hijau, Putih, dan Hitam.

■ Merah

Muncul di semua tim Sentai dan selalu jadi inti dari pasukan. Alasan kenapa warna ini yang dipilih adalah mudah dilihat dari jarak jauh, menimbulkan kesan yang kuat, dan cenderung disukai laki-laki dan perempuan.

Mirai Sentai Timeranger (2000)

Merah biasanya jadi pemimpin dan kadang jadi anggota yang dituakan. Beberapa pengecualian ada di Kakuranger (1994), di mana Merah hanya memimpin saat bertarung, begitu juga dengan Megaranger (1997).

Timeranger (2000) untuk pertama kalinya menghadirkan anggota tambahan dengan warna yang sama, setelah itu juga ada Houou Soldier di Kyuranger (2017), tapi warnanya Merah Tua. Sedangkan di Shinkenger untuk pertama kalinya hadir perempuan sebagai pemimpin yang berwarna Merah.

■ Biru

Warna kedua yang hampir selalu muncul ini kebanyakan mengambil peran wakil pemimpin. Kadang juga diidentikan dengan air dan kecepatan. Kalau karakternya seorang perempuan, warna Biru yang hadir dibuat jadi Biru Muda.

Menurut survei, Biru juga menjadi warna favorit anak laki-laki di Jepang. Jadi kalau mau serialnya ditonton anak laki-laki, pastikan warna ini hadir.

JAKQ Dengeki Tai (1977)

■ Kuning

Sejak Goranger, kesan karakter Kuning yang kuat, berbadan besar, dan suka makan selalu identik. Tapi sejak Goggle-V, survei membuktikan kalau anak-anak sudah tidak lagi menyukai jagoan yang berbadan besar (baca: Gendut). Maka dari itu untuk selanjutnya, warna Kuning sudah tidak lagi gendut. Kecuali di Jetman (1991).

Chodenshi Bioman (1984)

Warna Kuning ini juga yang pertama kali digunakan untuk tambahan anggota perempuan. Sejak Bioman (1984), warna kuning biasa digunakan oleh anggota perempuan, dan jadi warna yang paling bias gender, alias tidak lagi identik dengan laki-laki atau perempuan.

■ Pink

Warna ini sudah pasti diperuntukkan untuk anggota perempuan. Kalau ada anggota perempuan lain, misalnya Kuning, atau Biru dalam sebuah tim, Pink jadi anggota yang paling lemah lembut. Beda dengan perempuan Kuning yang lebih aktif, atau perempuan Biru yang lebih kuat.

Goggle Pink dari Goggle-V (1982)

■ Hijau

Warna Hijau ini posisinya kadang bergantian dengan warna Hitam, karena sama-sama gelap di layar, jadi hanya dipilih satu saja. Kecuali di beberapa serial, seperti Liveman (1988) dan Kyoryuger (2013). Kalau tidak ada warna Biru, karakter ini yang akan jadi wakil Merah berikutnya.

Anggota perempuan yang berwarna hijau juga ada, yakni Chameleon Green di Kyuranger (2017).

■ Hitam

Walaupun di tahun 1979 sudah ada Battle Kenya di "Battle Fever J" yang berkostum hitam, tapi Toei secara resmi menyebut jagoan Hitam pertama adalah Goggle Black di Goggle-V (1982). Sebelumnya warna ini tidak digunakan, karena identik dengan kejahatan. Tapi karena kesan yang diberikan sama kuatnya dengan warna Merah, maka warna ini kemudian berani dimunculkan bergantian dengan Hijau.

Junichi Haruta - Goggle Black dari Dai Sentai Goggle-V (1982)

□ Putih

Pertama kali hadir di JAKQ (1977), warna ini awalnya jarang digunakan karena gampang kotor dan tidak terlalu menonjol jika shooting di luar ruangan, apalagi saat matahari terik. Makanya walaupun putih, karakter ini banyak ditambah ornamen warna-warna lain, kecuali di Kakuranger (1994) yang memang bertemakan Ninja yang punya ilmu menghilang.

Ninja Sentai Kakuranger (1994)

Warna Metalik (Silver & Gold)

Silver pertama kali muncul di Megaranger (1997), sedangkan Gold pertama kali muncul di Dekaranger Movie (2004), dan secara reguler muncul pertama kali di Magiranger (2005). Keduanya identik dengan warna anggota tambahan.

Stag Buster & Beet Buster dari Gobusters (2012) alias Beast Morphers Silver & Gold

Warna Lain

Selain warna-warna di atas, warna-warna berikut ini juga sempat muncul, entah itu sebagai anggota utama atau tambahan.

■ Orange

Walaupun warna ini muncul sudah sejak di Battle Fever J (1979), tapi baru populer lagi di ToQger sebagai anggota keenam. Untuk yang benar-benar menggunakan nama Orange sendiri baru hadir di Kyuranger (2017). Selain itu juga ada Deka Swan dari Dekaranger (2004) dan Zyuoh Bird dari Zyuohger (2016) yang secara resmi juga disebut berwarna Orange.

Ressha Sentai ToQger (2014)

■ Ungu

Warna Ungu pertama hadir di Gekiranger (2007), karena digambarkan sebagai kakak dari karakter yang berwarna Biru. Uniknya, karakter Ungu ini lebih sering disebut Violet daripada Purple. Karakter-karakter yang masuk ke warna Ungu adalah Geki Violet, Kyoryu Violet, ToQ #7, dan Ryu Violet di Kyuranger (2017).

■ Crimson/ Merah Tua

Kabuto Raiger di Hurricaneger (2002) adalah karakter pertama yang memiliki warna ini. Karena digambarkan sebagai rival dari karakter utama yang berwarna Merah.

Ninpu Sentai Hurricaneger (2002)

■ Navy Blue/ Biru Tua

Sama seperti warna Merah Tua, Biru Tua juga pertama kali muncul di Hurricaneger (2002) sebagai karakter rival dari tim utama yang sudah memiliki warna Biru.

■ Gray/ Abu-Abu

Pertama kali muncul di Kyoryuger (2013), warna ini adalah versi non-metalik dari warna Silver. Tapi dalam grafik ini, Gray dijadikan satu dengan Silver.

Zyuden Sentai Kyoryuger (2013)

■ Cyan/ Biru Langit

Warna Biru ini sebetulnya tidak jauh berbeda dari Hurricane Blue di Hurricaneger. Tapi saat sudah ada karakter utama yang berwarna Biru, maka untuk anggota tambahan yang juga berwarna Biru, warna Cyan jadi pilihan. Karakter dengan warna ini muncul di Kyoryuger (2013) dan Kyuranger (2017).

■ Cokelat

Ryusoul Brown yang muncul di Ryusoulger eps.46 sejauh ini jadi satu-satunya karakter yang berwarna Cokelat.

Ryusoul Brown dari Ryusoulger (2019), saat ini masih satu-satunya yang berwarna Cokelat.


Apakah menurutmu Super Sentai perlu mengadopsi warna lain? Atau tidak perlu? Silakan berikan pendapat di kolom komen ya~

Daftar lengkapnya...

Penulisnya Sama, Berarti Sama-Sama Jelek???


“Wah, serial baru itu kan penulisnya si anu. Bakalan jelek deh kayak serial yg dulu dia bikin itu,” atau “Kalau dia yang nulis, pasti jagoannya banyak yang mati!”

Sebesar itu kah peran dari penulis cerita di Tokusatsu? Jawabannya: Tidak.

Produksi serial Tokusatsu beda dengan sinetron, beda juga dengan film aksi hollywood. Tapi sebelum kita bahas detail perbedaannya, kita pahami dulu jobdesc dalam sebuah produksi serial TV.

CEO TV Asahi, Hiroshi Hayakawa
  1. Yang Punya TV
  2. Direktur TV
  3. Executive Producer
  4. Produser + Asisten
  5. Sutradara + Asisten
  6. Penulis Cerita
  7. Storyboard
  8. Kameramen
  9. Lighting
  10. Audioman
  11. Penata Musik
  12. Kostum, Props, Set Builder, dll.
  13. Editor
  14. SFX
  15. dst-dst.

Poin 1-2 memang tidak terlibat langsung dengan isi dari sebuah serial, tapi mereka yang paling punya kepentingan dengan image/ kebijakan dari sebuah TV dan ranking dari sebuah acara. Mereka ini yang paling bawel kalau sebuah serial dikomplain sama masyarakat, atau mendadak bikin kontroversi. Sebaliknya, dengan nama besar sebuah TV, kita bisa berharap serial yang bermutu, atau minimal beda dengan yang ada di TV-TV lain.

Executive Producer Super Sentai & Kamen Rider, Matoi Sasaki


Executive Producer itu ibaratnya Produser Senior. Orang yang dipercaya megang banyak serial sukses, trus dikasih kerjaan tambahan: Menjalin kerjasama dengan pihak eksternal yang tujuannya untuk pendanaan, biar produksinya bisa semakin wah, semakin tinggi kualitasnya. EP ini kadang juga berasal dari sponsor itu sendiri, jadi perwakilan sponsor yang ditempatkan dalam sebuah produksi. Ada kalanya EP juga merupakan artis ternama yang banyak duit. Dia suka konsep ceritanya, dia mau jadi aktor/ aktrisnya, dia juga yang keluar uang biar bisa direalisasikan.

Kemudian ada Produser, ini orang yang jadi kunci sukses, sekaligus kegagalan dari sebuah serial. Karena sesuai namanya, dialah kepala proyek yang ada di pucuk pimpinan proses produksi. Termasuk di Tokusatsu…

Mantan Produser Kamen Rider, Direktur Toei, Shinichiro Shirakura

Produser ini sudah terlibat dari proses konsep/ desain atau apa pun itu, alias masih jauh sebelum proses produksi itu dimulai. Produser juga yang melakukan rekrutmen dari sebuah tim. Dia yang menentukan siapa sutradara, sutradara aksi, penulis cerita, kru, musik, penyanyi OP-ED, vendor editing, SFX, tim stuntman, dst-dst. Tapi scope kerja Produser ini ngga terbatas di proses produksi. Ini yang membedakannya dengan Sutradara. Sutradara yang akan pegang komando di keseharian proses produksi, sedangkan Produser juga harus paham strategi marketing dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait, biar acara yang dia pegang dapat publikasi yang bagus.

Ngga cuma itu, Produser juga harus jagain budget. Misal di satu produksi alokasi budgetnya akan bengkak di spesial efek, mau ngga mau ada alokasi budget yang harus turun. Misal untuk sewa tempat outdoor atau honor untuk penulis. Nah Produser harus bisa cari penulis cerita yang mau dibayar sesuai budget. Ngga nemu karena yang sudah terkenal pasang harga tinggi? Ya akhirnya sedapatnya aja. Kalau hasilnya jelek gimana? Kan ada kualitas ada harga? Di sini tantangannya, bukan ngga mungkin nemu penulis baru yang harganya masih rendah, tapi kualitasnya bagus. Itu pun tidak dilepas begitu saja, karena supervisi & persetujuan sepanjang acara terus berlangsung.

Jadi, kalau ada serial yang menurut kalian buruk, sebelum nyalahin sutradara atau penulis ceritanya, tandain dulu siapa produsernya. Karena selera dan skill manajerial (baca: pemilihan kru & kualitasnya) ya ada di Produser.

Kalau ternyata serial yang dia buat selama ini memang rata-rata jelek, ya ngga heran. Tapi perlu diingat juga, jelek menurutmu belum tentu jelek menurut pasar. Siapa tau kamu memang bukan target audience-nya. Sudah cek jumlah penonton (rating/ share)-nya? Sudah cek penjualan mainannya? Bagus? Nah, berarti itu jawabannya kenapa dia masih dipercaya sebagai Produser.

Sutradara Bima Satria Garuda/ BIMA-X, Arnandha Wyanto


Mau tau lebih detail lagi proses produksi Tokusatsu? Kenapa ada yang namanya Sutradara Aksi? Sutradara FX? Dan hubungan mereka dengan Kreator?

Simak wawancara saya dengan Arnandha Wyanto, sutradara Bima Satria Garuda/ Bima-X di video berikut ini...

10 Ultraman Tertinggi



1. Ultraman Ginga Victory


Ultra Fusion Shoot

Raksasa ternyata cahaya punya tinggi yang berbeda-beda. Ultraman Ginga Victory (gabungan dari Ultraman Ginga dan Victory) bisa memperbesar diri hingga tak terhingga. Sebenarnya kedua Ultraman yang pertama kali hadir di 2013 ini juga punya kemampuan memperbesar diri tanpa perlu bergabung.

2. Ultraman Scott

Granium Ray

Saat mengejar Monster Sorkin yang lari ke Bumi di tahun 1987, salah satu pasukan Ultra dari Nebula M78 bergabung dengan Scott Masterson, anggota pasukan tempur Bumi. Sejak saat itu ia dikenal sebagai Ultraman Scott yang memiliki tinggi 82 meter dan berat 64.000 ton.

3. Ultraman Chuck

Granium Ray

Selain Scott, di "Ultraman USA" juga ada Ultraman Chuck. Ia lebih senior dari Scott dan berperan penting dalam mengatur strategi pertarungan. Chuck memiliki tinggi 79 meter dan berat 68.000 ton.

4. Ultraman Beth

Granium Ray

Masih dari serial animasi "Ultraman USA," Beth adalah Ultraman perempuan yang ikut turun ke Bumi saat mengejar monster Sorkin. Dengan berat 54.000 ton dan tinggi 76 meter, kecepatan terbang Beth mencapai mach 24.

5. Ultraman Joneus

Planium Ray

Joneus adalah Ultraman terbaik dari Nebula U40 yang turun ke Bumi di tahun 1979. Tingginya mencapai 70 meter dan beratnya 50.000 ton. Ia mampu terbang dengan kecepatan mencapai mach 8.

6. Ultraman Great

Burning Plasma

Turun ke Australia di tahun 1990, Ultraman yang berasal dari Nebula M78 ini kemudian bergabung dengan Jack Shindo agar bisa bertarung lama di Bumi. Tingginya 60 meter, beratnya 58.000 ton, dan mampu terbang sampai mach 26.

7. Ultraman Zearth

Speciushula Ray

Datang ke Bumi di tahun 1996, Zearth berasal dari Nebula Z95 dengan tujuan membersihkan Bumi dari polusi. Dengan tinggi 60 meter dan berat 54.540 ton, Zearth mampu terbang secepat mach 19,9.

8. King Ultra

Senrei Ray

Raja Ultra ini pertama kali muncul di serial Ultraman Leo (1974). Ia berasal dari Planet Raja dan biasa hidup menyendiri dalam menjalankan tugasnya mengawasi jagad raya. Ultraman yang memenjarakan Belial ini memiliki tinggi 58 meter, berat 56.000 ton, dan mampu bergerak secepat kilat layaknya teleportasi.

9. Ultraman Neos

Neomagneum Ray

Neos merupakan salah satu Ultraman dengan kemampuan terbang tercepat. Catatan rekornya adalah mach 30. Ia dipercaya turun ke Bumi untuk melindungi Bumi dari efek materi gelap yang datang tiap 3 juta tahun sekali. Ultraman Neos memiliki tinggi 58 meter dan berat 59.000 ton.

10. Ultraman Saga

Saga Plasma

Ultraman Saga adalah hasil dari penggabungan Ultraman Dyna (55 meter), Cosmos (47 meter), dan Zero (49 meter). Pertama kali muncul di film "Ultraman Saga" (2012), Ultraman ini tingginya 58 meter dan memiliki berat 45.000 ton.

Kalau semua Ultraman tingginya di rata-rata, angkanya ada di sekitar 53 meter atau setara gedung 10 lantai. Sedangkan Ultraman Hayata alias Ultraman yang pertama, tingginya hanya 40 meter dan Ultraman Z, Ultraman yang terbaru tingginya 52 meter. Penasaran Ultraman favoritmu ada di urutan berapa? Langsung tanya di kolom komen ya~

Senin, 20 Januari 2020

DVD RESMI GAVAN teks Indonesia Sudah Tersedia!

Buat apa beli bajakan kalau yang resmi dengan pilihan teks Indonesia dan Inggris sudah bisa kamu beli di Indonesia.


Packagingnya juga mantab jiwa, kepingan disc-nya dicetak mulus dengan desain menarik. Makanya DVD Box Set Complete Set (44 episode) ini pas banget buat kamu para kolektor Gavan.




Yuk, bantu Kakak-Kakak dari Goshen Media untuk menghabiskan stok DVD Box Set ini.

CUMA Rp.612.500,- belum termasuk ongkos kirim dari Jakarta.
Untuk pemesanan bisa langsung hubungi Rizki di 0812-2229-8034, atau lewat Tokopedia.

Minggu, 19 Januari 2020

REBUILD - Membangun kembali The14thRider Fansub



Seharusnya situs ini diaktifkan sejak lama...
Tapi social media dengan segala kemudahan interaksinya memang membuat kita terlena.

Okay, pada akhirnya memang harus diaktifkan juga.
Sedikit pengantar, The14thRider Fansub itu dibuat oleh saya, Aria Wicaksana, sekitar Oktober 2018. Setelah sebelumnya mendalami proses subtitling di project official DVD Uchu Keiji Gavan dengan subtitle Indonesia yang diproduksi oleh Goshen Media dan dirilis di POPCON Asia 2017.

Tapi jauh sebelum itu, saat masih aktif di FCTI (Fans Club Tokusatsu Indonesia), saya bersama dengan Willy Sanjaya (GaijinShop) dan Rizki Abdallah (RepublikSultan) sudah pernah membuat subtitle Indonesia dari beberapa serial Tokusatsu yang sedang tayang, seperti Pretty Guardian Sailor Moon (2003), Kamen Rider 555 (2003), dan Tokuso Sentai Dekaranger (2004).

Kondisi 17 tahun lalu itu, WOW 17 tahun lalu lho!
Bayangkan kalau kita saat itu sudah punya anak, maka anak kita sudah kelas 3 SMA, HAHA!

Ya kondisi per-fansub-an 17 tahun lalu jelas beda dengan sekarang.
Belum ada fansub luar yang berlomba-lomba menghadirkan fansub tercepat lengkap dengan softsub-nya. Jadi kita tinggal download script dan translate aja. Tidak semudah itu Fulgoso~

Dulu itu Rizki harus terjemahin sendiri, Willy harus timing & ngedit sendiri, dan saya yang jual-jualin... Tapi karena akhirnya punya kesibukan sendiri, tim ini pun akhirnya bubar.


Sampai akhirnya saya mulai mengerjakan Uchu Taitei GOD SIGMA, dibantu oleh tim penerjemah baru: Riza Pratama Ramadhan & Hutomo Dwinugrahanto. Karena punya kantor baru, Riza pun cabut sebelum project GOD SIGMA tamat, dan akhirnya hanya menyisakan saya dan Huto.

Saya sendiri saat ini bekerja sebagai Digital Marketing Manager di SIMO Skyroam Indonesia dan Marcomm Manager di KataData Indonesia, sedangkan Huto menurut pengakuannya di Facebook, menjabat sebagai Editor di MataLelaki.

Dengan kesibukan masing-masing, kami berusaha membagi waktu untuk terus belajar dan menyalurkan hobi di Fansub ini.

Untungnya sih kami tidak melakukannya secara gratis...
Tapi kami membebani kalian sebesar Rp.100.000,- sebagai upah untuk menerjemahkan, timing, dan editing setiap episodenya. Misalnya untuk serial Denjin Zaborgar dan Fuun Lionmaru.

Karena tanpa adanya donasi itu, kami ya lebih senang untuk fokus bekerja saja di kantor masing-masing, bercengkrama bersama keluarga, jalan-jalan atau istirahat total sekalian, sambil menikmati hidup.

Okay, mulai saat ini, semua yang terkait aktifitas The14thRider Fansub, baik itu rilisan terbaru, penjualan produk, atau yang lainnya, bisa kalian baca di sini. Jangan lupa bookmark juga page-nya, dan catat nomornya: 0811-14-0611

Biar kalau ada kendala apa-apa, bisa langsung kontak dulu ke nomor itu, daripada bikin drama di luaran.

Postingan selanjutnya akan membahas 1-1 serial dari #The14thRiderFansub, berikut link downloadnya. Selamat menunggu...